Informasi dari internet memberi Wayan tambahan bahan untuk mencoba teknik dan memahami perawatan tanaman. Tetapi, pengalaman di kebun dan arahan penyuluh tetap menjadi bagian dari proses. Bagi petani, video di ponsel berguna saat bisa diterapkan pada persoalan nyata—misalnya mengatasi hama atau merawat pohon agar tetap produktif.
Langudon menerima jaringan melalui infrastruktur BTS 4G BAKTI Komdigi pada 2022. Akses itu membuka jalur bagi warga untuk mencari pengetahuan pertanian dan informasi pasar tanpa harus meninggalkan desa untuk setiap kebutuhan.
Panen kebun ikut menopang pendapatan keluarga
Kebun Wayan dapat menghasilkan panen raya seminggu sekali, dengan hasil terbanyak mencapai 40 kg. Buah yang dipetik perlu dikeringkan sebelum dibawa ke Kota Buol, sekitar 25 km dari Langudon, untuk dijual.
Iloh biasanya pergi ke kota dua kali sebulan dengan sepeda motor. Setiap perjalanan, ia rata-rata membawa pulang uang Rp2-4 juta, menurut Wayan. Kebiasaan membandingkan harga dan berkomunikasi dengan pengepul membantu keluarga itu mengelola penjualan hasil kebun.
Dampaknya tidak berhenti pada kakao. Iloh juga mempromosikan kue bolu lewat Telegram saat ingin berjualan. Pesanan kadang datang dalam jumlah besar untuk hajatan di desa, sementara penjualan rutin memberi tambahan penghasilan rata-rata Rp100.000 seminggu.
Bagi keluarga petani, tambahan pemasukan dari usaha kecil dapat berjalan berdampingan dengan hasil kebun. Internet membuat promosi kue bisa menjangkau desa tetangga, sementara panggilan video di Telegram membantu Wayan dan Iloh tetap berhubungan dengan tiga anak perempuan mereka yang tinggal di Kota Palu, Kota Buol, dan Bali.
Dari transmigrasi hingga kebun kakao
Wayan, yang kini berusia 52 tahun, berasal dari Bali dan pindah ke Sulawesi Tengah melalui program transmigrasi pemerintah pada 1996. Lahan yang ia garap menjadi sumber penghidupan keluarganya. Puluhan keluarga transmigran dari Jawa dan Bali juga menetap turun-temurun di Langudon dan ikut melanjutkan tradisi bertani kakao.
Komoditas yang kerap disebut “emas cokelat” itu tetap menuntut perawatan telaten. Jalan menuju kebun Wayan berbatu dan terjal, hanya mudah dilalui pengendara motor yang terbiasa dengan medan setempat. Pekerjaan dimulai sebelum matahari tinggi, dari memeriksa tanaman sampai menentukan buah yang sudah waktunya dipetik.
Di antara petani Langudon, ada pula Wayan Adiatmika, 33 tahun, yang menggarap lahan seluas 6 hektare, termasuk kebun kakao. Dari 100 petani di desa itu, 35 orang membudidayakan kakao. Kehadiran petani muda dan penggunaan internet menambah cara warga memperoleh pengetahuan, sementara kebun tetap menjadi pusat penghidupan mereka.
Wayan Sudiarsa dan Iloh masih berbagi satu ponsel. Dari perangkat itu, Iloh mengurus penjualan dan promosi, sedangkan Wayan belajar merawat tanaman. Berikutnya, hasil percobaan dan informasi harga yang mereka dapatkan akan kembali diuji di kebun serta di perjalanan menuju pasar Buol.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.