Fokus pada komponen dalam negeri menghubungkan investasi baru dengan peluang bagi rantai usaha nasional. Jika industri tersebut berkembang dengan keterlibatan pemasok lokal, pelaku usaha dalam negeri berpeluang mengambil bagian lebih besar dalam kegiatan produksi dan layanan pendukung.
Anindya juga menyatakan Kadin tetap ingin memperkuat industri yang telah berkembang, sembari mendorong bidang baru. Dalam pernyataannya, ia mengaitkan agenda itu dengan tema Rapat Pimpinan Nasional Kadin, yakni ekonomi kerakyatan dan Indonesia mendunia.
“Bukan saja untuk industri-industri yang sekarang, tapi industri masa depan. Seperti industri EV, renewable energy, data center yang memang komponen lokalnya juga banyak. Bapak dan tentunya Pak Presiden, tema Rapimnas kali ini adalah ekonomi kerakyatan dan Indonesia mendunia,” katanya.
Investasi baru di tengah agenda hilirisasi
Gambaran PMDN dari Kadin muncul bersamaan dengan angka realisasi investasi nasional pada semester pertama 2026. Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menyebut realisasi investasi periode itu mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya dan menyerap lebih dari 1,4 juta tenaga kerja.
Rosan juga menyampaikan kontribusi investasi hilirisasi telah mencapai sekitar 30 persen dari total investasi yang masuk, naik dari kisaran 25 persen.
Angka ini merujuk pada realisasi investasi nasional semester pertama 2026, sedangkan pernyataan Anindya membahas PMDN selama dua tahun pertama pemerintahan Prabowo.
Cakupan waktunya berbeda, sehingga keduanya memberi gambaran yang berlainan dan tidak dapat diperlakukan sebagai angka pembanding langsung.
Di luar investasi perusahaan, proyek strategis nasional juga memberi konteks mengenai skala kegiatan pembangunan. Asisten Deputi Pengembangan Kawasan Ekonomi dan Proyek Strategis Kementerian Koordinator Perekonomian, Suroto, menyebut 250 proyek strategis nasional rampung sejak 2016 hingga 29 Oktober 2026, dengan total nilai investasi Rp2.396 triliun.
Deretan angka tersebut menunjukkan beragam jalur pembiayaan dan pelaksanaan pembangunan, dari investasi domestik hingga proyek strategis. Bagi dunia usaha, tantangannya adalah memastikan perusahaan nasional dan daerah memiliki kapasitas untuk ikut serta, terutama ketika investasi mengarah ke industri masa depan serta hilirisasi.
Anindya menilai fundamental ekonomi Indonesia masih tahan menghadapi gejolak global dan menyebut Indonesia sebagai salah satu titik terang ekonomi dunia, sebagaimana pernah disampaikan Dana Moneter Internasional (IMF). Ia menggarisbawahi perlunya memperluas kapasitas pengusaha lokal agar peluang dari investasi dapat menjangkau lebih banyak pelaku usaha.
“Nah ini kami lihat bisa membuat sekali lagi daya tahan kita justru semakin kuat,” ujar Anindya, merujuk pada keterlibatan pengusaha kelas menengah dalam PMDN.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.