BALIKPAPAN — Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) menyebut karhutla di IKN yang meluas hingga 1.600 hektare sepanjang Juli-Oktober 2026 diduga sengaja dilakukan untuk membuka lahan. Dugaan itu berangkat dari pola sebaran api dan temuan tanaman baru di beberapa lokasi pascakebakaran.
Kebakaran mencakup kawasan konservasi, konsesi perusahaan, serta lahan milik warga. Dampaknya langsung menyentuh bentang alam IKN, terutama karena sekitar 900 hingga 1.000 hektare area terbakar berada di Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto.
Pola api dan bibit tanaman jadi petunjuk
Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam OIKN Myrna Asnawati Safitri mengatakan pemetaan lapangan memperlihatkan pola sebaran api yang tidak acak. Di sejumlah lokasi, bekas kebakaran membentuk bidang kotak atau memanjang.
Petugas juga menemukan bibit sawit dan pisang di beberapa titik setelah api padam. Temuan itu memperkuat dugaan bahwa pembakaran berkaitan dengan pembukaan lahan, meski penyelidikan terhadap pelaku masih berjalan.
“Bahkan di beberapa titik lokasi pascakebakaran, ditemukan bibit-bibit tanaman baru seperti sawit dan pisang. Pola menebang vegetasi lalu membakarnya menjadi modus umum yang berulang,” kata Myrna di Balikpapan, Sabtu (31/10/2026).
Rincian sebaran menunjukkan sekitar 500 hektare kebakaran berada di area konsesi perusahaan. Sisa luasan tersebar di lahan milik masyarakat. Angka tersebut menggambarkan kebakaran tidak hanya terjadi di satu jenis penguasaan lahan.
Bagaimana OIKN menangani dugaan pembakaran?
OIKN menyatakan telah berkoordinasi dengan aparat penegak hukum untuk menangani pelaku yang teridentifikasi di lapangan. Kepolisian kini memproses penyelidikan. Langkah berikutnya bergantung pada hasil pemeriksaan aparat.
Di sektor swasta, OIKN menjatuhkan sanksi administratif tahap awal berupa paksaan pemerintah kepada PT AJP, perusahaan perkebunan kelapa sawit yang seluruh wilayah operasionalnya berada di dalam kawasan IKN. OIKN juga menyebut satu perusahaan sawit telah dikenai sanksi administratif terkait karhutla itu.
Penanganan ini penting karena sebagian besar area terbakar berada di Tahura Bukit Soeharto, sementara bagian lain menyentuh konsesi dan lahan masyarakat. Jika api muncul dari pembukaan lahan, dampaknya tidak berhenti pada bidang yang dibakar: kebakaran dapat mengancam kawasan hutan di sekitarnya dan membuat upaya perlindungan wilayah IKN semakin berat.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.