Minggu, 1 November 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Laba Emiten BEI Tembus Rp 392,59 Triliun, Energi Terdepan

Laba emiten BEI dan pertumbuhan sektor energi pada 2026
Kinerja laba perusahaan tercatat di BEI tumbuh, dengan sektor energi memimpin pada semester I 2026. (Ilustrasi: AI)

LOMBOK — Laba emiten BEI mencapai Rp 392,59 triliun per 30 Oktober 2026, dengan sektor energi mencatat pertumbuhan tertinggi pada semester I 2026. Angka itu mencakup 963 perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Agus Firmansyah, memaparkan data tersebut dalam workshop pasar modal Indonesia di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (31/10). Ia menilai capaian laba agregat menunjukkan kinerja emiten masih kuat.

Namun, kinerja itu tidak merata di semua sektor. Pada semester I 2026, sebanyak 74 persen emiten membukukan keuntungan dan 26 persen lainnya mencatat kerugian. Sektor teknologi mengalami kontraksi laba paling dalam, yakni 47 persen.

Laba emiten BEI tumbuh, sektor energi memimpin

Dalam paparannya, Agus menyebut laba bersih agregat perusahaan tercatat mencapai Rp 392,59 triliun berdasarkan pembaruan data per 30 Oktober 2026. Ia juga menyampaikan angka tersebut sebagai sekitar Rp 392 triliun saat menjelaskan kondisi pasar dalam workshop.

“Untuk tahun 2026, ini datanya update 30 Oktober, laba bersih agregat emiten itu tercatat Rp 392 triliun. Artinya emiten-emitennya itu masih memiliki, masih mencatat laba bersih yang cukup tinggi,” ujar Agus.

Perusahaan dalam indeks LQ45 membukukan laba bersih agregat Rp 246,06 triliun. Kelompok saham unggulan ini mencatat pertumbuhan pendapatan 16,92 persen dan kenaikan laba bersih 18,49 persen secara tahunan.

Untuk seluruh emiten, pendapatan meningkat 15,99 persen secara tahunan pada periode Juni 2025 hingga Juni 2026. Laba bersih tumbuh 16,25 persen dalam rentang waktu yang sama. Data itu memperlihatkan pertumbuhan pada tingkat agregat, meski tidak semua sektor ikut menguat.

Kontraksi sektor teknologi paling dalam

Sektor energi membukukan kenaikan laba bersih 34,84 persen pada semester I 2026. Agus menyebut sektor barang baku, barang konsumen primer, transportasi dan logistik, serta infrastruktur juga masuk kelompok dengan pertumbuhan laba.

Di antara sektor yang mengalami penurunan, barang konsumen non-primer mencatat kontraksi 3,11 persen dan perindustrian turun 8,96 persen. Penurunan laba sektor teknologi mencapai 47 persen.

Perbedaan itu penting bagi pembacaan kinerja pasar. Laba agregat yang besar tidak berarti seluruh perusahaan menikmati pertumbuhan serupa; data keuntungan dan kerugian menunjukkan hasil perusahaan tersebar tidak merata. Bagi investor, angka sektoral memberi gambaran lebih rinci daripada melihat total laba saja, sementara perusahaan dan industri menghadapi pola kinerja yang berbeda.

Data tersebut juga menjadi konteks bagi kondisi pasar saham. Arus dana asing tercatat masih mengalami net sell sebesar Rp 97,92 triliun per 30 Oktober 2026. Angka itu berjalan berdampingan dengan kenaikan laba agregat perusahaan tercatat, sehingga menggambarkan dua sisi pasar: kinerja keuangan emiten dan arah aliran dana investor asing.

Agus menegaskan bahwa laba perusahaan tercatat tetap berada pada tingkat yang tinggi. “Artinya emiten-emitennya itu masih memiliki, masih mencatat laba bersih yang cukup tinggi,” ujar Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK tersebut.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair