SOFIA — Iliana Iotova unggul dalam putaran kedua pemilihan presiden Bulgaria pada Minggu, 1 November 2026, menurut hasil hitung cepat. Keunggulannya menempatkan sikapnya terhadap Rusia dan perang Ukraina di pusat perhatian pemilih.
Tiga exit poll memproyeksikan Iotova meraih 50,7% hingga 52,5% suara, sedangkan pesaingnya, Andrey Gyurov, diperkirakan mendapat 43,4% hingga 44%. Angka itu masih berupa proyeksi, bukan hasil resmi.
Posisi presiden Bulgaria sebagian besar bersifat seremonial. Namun, jabatan itu tetap memiliki peran dalam urusan pemerintahan dan pertahanan, sehingga pilihan pemimpin baru berlangsung saat kekhawatiran keamanan di Laut Hitam menguat.
Pemilu Bulgaria diwarnai perbedaan sikap soal Rusia
Iotova, presiden petahana berusia 62 tahun, dikenal mendukung dialog dengan Moskwa dan menolak bantuan militer untuk Ukraina. Ia juga mendukung keanggotaan Bulgaria di Uni Eropa dan NATO, sembari menyatakan perdamaian di Ukraina hanya dapat dicapai melalui perundingan.
Gyurov, bankir berusia 50 tahun dan mantan perdana menteri sementara, didukung oposisi pro-Barat. Ia mengkritik Iotova karena tidak secara tegas menyalahkan Rusia atas serangan terhadap kapal-kapal di Laut Hitam.
Dalam debat televisi sebelum pemungutan suara, Gyurov mengatakan, “Russia must stop its aggression so that the next steps can be taken,” sebagaimana dikutip dalam bahan pernyataan kampanye. Iotova mempertahankan pendekatan berbeda: “peace can come only through negotiations”.
Perbedaan itu bukan sekadar retorika kampanye. Pada Oktober, sejumlah kapal di Laut Hitam dekat Bulgaria terkena serangan dan 21 orang dilaporkan hilang. Peristiwa tersebut diduga merupakan dampak meluasnya perang Rusia-Ukraina.
Pemerintahan Perdana Menteri Rumen Radev menyebut serangan itu tampak menguntungkan kepentingan Rusia dan telah memanggil duta besar Rusia. Namun, pemerintah menyatakan belum ada bukti yang secara langsung menghubungkan Moskwa dengan serangan tersebut.
Apa arti hasil sementara bagi Bulgaria?
Jika proyeksi itu dikukuhkan oleh hasil resmi, Iotova akan menjadi perempuan pertama yang terpilih sebagai presiden Bulgaria. Ia mengambil alih jabatan tersebut pada tahun ini setelah Radev mengundurkan diri untuk mengikuti pemilihan parlemen.
Presiden Bulgaria dapat menunjuk pemerintahan sementara saat terjadi krisis politik, menjadi panglima tertinggi angkatan bersenjata, serta memveto undang-undang. Karena itu, meski kewenangannya sehari-hari terbatas, arah kepemimpinan presiden tetap berpengaruh ketika negara menghadapi ketegangan keamanan dan perdebatan politik.
Dampaknya terasa pada pilihan kebijakan luar negeri Bulgaria. Negara yang secara historis memiliki kedekatan dengan Rusia itu tetap terbelah mengenai hubungannya dengan Moskwa. Sikap presiden terhadap Ukraina dan keamanan Laut Hitam dapat memengaruhi perdebatan domestik sekaligus posisi Bulgaria di dalam Uni Eropa dan NATO.
Keunggulan Iotova juga lebih tipis daripada perkiraan sejumlah jajak pendapat sebelum putaran pertama, yang sempat memberinya keunggulan 20 poin. Pada putaran pertama pekan sebelumnya, ia memperoleh 35% suara, sementara Gyurov meraih 32%.
Seorang pemilih di Sofia, Krassimira Kostova, mengatakan ia datang ke tempat pemungutan suara meski tidak puas dengan kedua kandidat. “I don’t like either of the two candidates, but I don’t like the return of communism we’ve been seeing in recent years either. That’s why I came to vote,” kata guru berusia 64 tahun itu.
Hasil akhir akan menentukan apakah proyeksi kemenangan tersebut menjadi mandat resmi. Untuk sementara, tiga exit poll menempatkan Iotova pada kisaran 50,7% hingga 52,5% suara.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.