Senin, 2 November 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Pil KB dan Kanker Rahim: Pendarahan Jadi Tanda Awal

Pemeriksaan medis untuk mendeteksi kanker rahim setelah pendarahan berkepanjangan
Pendarahan yang terus berlangsung membawa Claudia Pereira menjalani pemeriksaan dan mengetahui adanya kanker rahim. (Ilustrasi: AI)

MIAMI — Pil KB yang diminum Claudia Pereira untuk mengatasi jerawat dewasa beriringan dengan pendarahan berkepanjangan, yang akhirnya mengarah pada penemuan kanker rahim. Pengalaman perempuan berusia 37 tahun itu menunjukkan mengapa pendarahan yang tak kunjung berhenti perlu diperiksa, bukan dianggap sebagai proses adaptasi obat semata.

Pereira tinggal di Miami, Florida, Amerika Serikat. Setelah menjalani pemeriksaan di unit gawat darurat, dokter menemukan massa berukuran 7 cm di rahimnya. Pemeriksaan patologi memastikan massa itu adalah leiomyosarcoma uterus, kanker langka yang berkembang pada otot polos rahim.

Pendarahan berbulan-bulan mengantar Pereira ke rumah sakit

Pereira mulai minum pil KB ketika berusia 37 tahun dengan harapan jerawat di wajahnya mereda. Setelah mulai menggunakan obat itu, ia mengalami pendarahan yang terus berlangsung selama berbulan-bulan.

Dokter yang meresepkan pil tersebut awalnya mengatakan tubuhnya perlu beradaptasi dengan obat baru. Namun, setelah 4-5 bulan pendarahan belum berhenti. Pada enam bulan, Pereira mengatakan dirinya mengalami anemia.

“Saya berpikir, ‘Oke, apakah ini normal?’ Ini terlalu banyak. Saya jadi anemia setelah enam bulan,” kata Pereira.

Pendarahan kemudian berubah menjadi cairan kental. Pereira pun pergi ke unit gawat darurat. Serangkaian pemeriksaan menemukan massa di rahim, tetapi hasil patologi menunjukkan bahwa itu bukan tumor jinak seperti yang semula diharapkan.

Diagnosisnya adalah leiomyosarcoma uterus atau uLMS. Kanker ini tumbuh di lapisan otot rahim. Ukuran massa mencapai 7 cm, sehingga dokter yang merawatnya menilai Pereira memiliki risiko tinggi mengalami penyebaran kanker.

Apa kaitan pil KB dengan kanker rahim Pereira?

Dokter yang menangani Pereira menjelaskan bahwa tumornya memiliki reseptor estrogen dan progesteron. Keberadaan reseptor itu berarti hormon tersebut dapat mendorong pertumbuhan kanker.

Gina D’Amato, ahli onkologi medis sarkoma di Sylvester Comprehensive Cancer Center, mengatakan estrogen yang muncul dalam siklus menstruasi Pereira mungkin turut mendorong pertumbuhan tumor. Menurut D’Amato, hormon tambahan dari pil KB bisa membuat gejala berkembang lebih cepat dan membantu kanker terdeteksi.

D’Amato juga menekankan bahwa Pereira tidak menggunakan pil KB dalam waktu lama. Ia menilai temuan kanker saat itu mungkin justru membantu pasien mengetahui kondisi yang sebelumnya tersembunyi. Penjelasan itu merujuk pada kasus Pereira, bukan bukti bahwa pil KB menyebabkan semua kanker rahim.

Leiomyosarcoma sendiri merupakan sarkoma jaringan lunak yang dapat muncul di berbagai bagian tubuh. Penjelasan Katherine L. Byar dan Tricia Fredericks dalam Journal of the Advanced Practitioner in Oncology pada 2022 menyebut uLMS sebagai lokasi paling umum untuk leiomyosarcoma. Jenis ini mencakup 2 persen hingga 5 persen dari semua keganasan uterus.

Uterine leiomyosarcoma tergolong agresif dan sulit ditangani karena dapat resistan terhadap terapi standar. Kelangkaan dan sifatnya yang agresif membuat perubahan gejala perlu diperhatikan, terutama ketika pendarahan berlangsung lama atau berubah. Dalam kasus Pereira, pemeriksaan baru dilakukan setelah keluhan berlanjut dan kondisinya memburuk.

Pengangkatan tumor dan tanda yang perlu diperhatikan

Dokter mengangkat massa tumor dari rahim Pereira. Pemindaian setelah tindakan tidak menunjukkan bukti kanker telah menyebar ke bagian tubuh lain. Hasil itu melegakan, tetapi D’Amato sebelumnya memperingatkan risiko penyebaran karena ukuran tumor mencapai 7 cm.

Dokter tersebut mengatakan keadaan Pereira bisa jauh lebih buruk jika tumor baru ditemukan enam bulan hingga setahun kemudian. Pengalaman ini memberi gambaran nyata tentang dampak keterlambatan memeriksa pendarahan yang menetap: kanker dapat terus berkembang sebelum pasien mengetahui penyebabnya.

Bagi pasien yang mengalami perubahan pendarahan setelah mulai mengonsumsi obat, cerita Pereira bukan alasan untuk langsung menghentikan atau mengubah pengobatan sendiri.

Namun, keluhan yang terus terjadi patut disampaikan kembali kepada tenaga kesehatan, terutama bila disertai perubahan kondisi tubuh. Pemeriksaan lanjutan membantu dokter menilai penyebabnya, bukan sekadar menganggapnya sebagai adaptasi.

Pada Juli tahun ini, Pereira merayakan satu tahun bebas kanker dengan berlibur ke Bali dan menghabiskan waktu bersama keluarganya. Ia menyebut keluarga sebagai dukungan terkuat selama menjalani pengobatan. Kisahnya juga mengingatkan bahwa gejala yang tampak biasa, seperti pendarahan berkepanjangan, bisa menjadi alasan untuk kembali mencari pertolongan medis.

“Jangan ragu. Dengarkan tubuhmu. Tubuhmu akan selalu memberitahumu jika ada sesuatu yang salah. Aku adalah buktinya,” kata Pereira.

Pereira berharap pengalamannya meningkatkan kesadaran tentang kanker langka. Ia juga bersyukur jerawat yang mendorongnya mulai minum pil KB akhirnya membawa perhatian pada kondisi tubuhnya. Kini, pesan yang ia sampaikan berangkat dari pengalaman pribadi: jangan abaikan tanda yang menetap, dan sampaikan perubahan itu kepada dokter.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

Uji dirimuTes Logika Ringan: 10 Soal Asah Otak, Berapa Skormu? →
TRENDING Cek Weton Tanggal Lahir: Kalkulator Hari, Pasaran, dan Neptu Jawa