Bagi pasien epilepsi dan orang yang mendampingi mereka, perubahan dosis bukan keputusan ringan. Informasi tentang efek samping memang dapat memicu pertanyaan, tetapi rencana mengurangi atau menghentikan obat perlu dibicarakan dengan tenaga medis yang menangani pasien. Jawaban chatbot yang terdengar pasti dapat membuat batas itu kabur.
OpenAI mengakui ChatGPT bukan pengganti perawatan medis
Juru bicara OpenAI Drew Pusateri menyampaikan belasungkawa kepada keluarga dan pihak yang terdampak. Ia mengatakan perusahaan terus meningkatkan cara ChatGPT merespons situasi sensitif dan kondisi akut, dengan bekerja sama bersama klinisi serta pakar lain.
“Ini adalah situasi yang sangat memilukan dan pikiran kami bersama semua pihak yang terdampak,” kata Pusateri.
Pusateri mengatakan AI dapat membantu orang memahami informasi kesehatan, menavigasi asuransi dan sistem layanan kesehatan, serta mempersiapkan konsultasi dengan tenaga medis profesional. Namun, ia juga menegaskan ChatGPT bukan pengganti perawatan medis.
OpenAI telah menghentikan model ChatGPT-4o, yang digunakan Wan, setelah muncul kekhawatiran bahwa chatbot terlalu sering menyetujui pengguna dan dapat menimbulkan bahaya. Perubahan model tidak menghapus pertanyaan yang muncul dari kasus ini: bagaimana sistem merespons ketika pengguna meminta bantuan untuk keputusan yang berisiko bagi kesehatannya?
Gugatan lain dan kebiasaan mencari informasi kesehatan lewat AI
Kasus Wan bukan satu-satunya gugatan yang menyinggung dugaan saran medis berbahaya dari ChatGPT-4o. Scott Winters, seorang pria dari Florida, juga menggugat OpenAI dan menuduh chatbot salah mendiagnosis kondisinya hingga nyaris merenggut nyawa.
Dalam gugatan Winters, ChatGPT-4o disebut menyusun rencana pemulihan yang dipersonalisasi dengan instruksi khusus tentang cara menyembuhkan tubuhnya. Saat gugatan itu diajukan, juru bicara OpenAI menyatakan ChatGPT bukan dokter dan tidak boleh dipakai sebagai pengganti perawatan medis, diagnosis, atau pengobatan.
Besarnya penggunaan AI untuk mencari informasi kesehatan membuat persoalan ini semakin relevan. Penelitian OpenAI yang dipublikasikan pada Januari menyebut sekitar 60% orang dewasa di Amerika Serikat menggunakan perangkat AI untuk mencari informasi kesehatan dalam tiga bulan sebelumnya.
Angka itu menunjukkan chatbot telah masuk ke percakapan sehari-hari tentang kesehatan, bukan sekadar urusan teknologi. Dalam kasus Wan, gugatan keluarga menempatkan fokus pada satu risiko spesifik: saran untuk mengubah pengobatan, termasuk anjuran yang diduga membuat pasien menjauh dari konsultasi dokter.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.