Rabu, 4 November 2026 WIB
EKONOMI

PMI Manufaktur RI Tembus 54,0, Permintaan Ekspor Melesat

PMI manufaktur Indonesia menguat saat produksi dan ekspor meningkat
Aktivitas manufaktur menguat pada Oktober seiring pertumbuhan pesanan baru dan ekspor. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — PMI manufaktur Indonesia mencapai 54,0 pada Oktober 2026, saat aktivitas pesanan baru dan produksi menguat menjelang pengumuman pertumbuhan ekonomi kuartal III pada 5 November.

Indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) itu naik dari 52,4 pada September. Angka di atas 50 menunjukkan manufaktur masih berada di fase ekspansi, dan capaian Oktober menjadi penguatan terkuat dalam lebih dari dua tahun.

Perbaikan ini datang bersama surplus perdagangan dan inflasi yang masih berada dalam sasaran nasional. Namun, indikator-indikator tersebut belum menunjukkan berapa besar pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada kuartal III.

Apa yang mendorong PMI manufaktur ke 54,0?

Permintaan baru menjadi penopang utama. Laju pertumbuhannya tercatat paling cepat dalam lima tahun terakhir, sementara pesanan ekspor baru mencapai rekor tertinggi sejak survei dimulai pada April 2011.

Pesanan yang bertambah mendorong produksi tumbuh paling kuat sejak Maret 2024. Sejumlah pelaku industri juga meningkatkan pembelian bahan baku dan menambah persediaan untuk memenuhi kebutuhan produksi.

PMI mencatat ekspansi selama dua bulan berturut-turut. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan penguatan manufaktur menjadi sinyal ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian global.

“Fondasi perekonomian Indonesia tetap kuat di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian,” ujar Airlangga dalam keterangan tertulis, Senin (2/11/2026).

Optimisme dunia usaha terhadap prospek manufaktur dalam 12 bulan mendatang juga masih terjaga. Bagi industri, gabungan permintaan domestik dan luar negeri yang meningkat memberi ruang untuk menjaga produksi dan menyiapkan pasokan. Dampaknya bergantung pada kemampuan perusahaan memenuhi pesanan tanpa terganggu ketersediaan bahan baku maupun distribusi.

Surplus perdagangan berlanjut, ekspor tumbuh

Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus US$3,36 miliar pada September 2026. Surplus itu berlangsung selama tiga bulan berturut-turut.

Nilai ekspor mencapai US$27,59 miliar, naik 3,68% secara bulanan dan 11,87% secara tahunan. Kenaikan harga sejumlah komoditas, termasuk batu bara, gas alam, minyak kelapa sawit, karet alam, bijih besi, dan tembaga, ikut mendorong ekspor.

Pemerintah menilai peluang pasar masih terbuka melalui hilirisasi dan perbaikan kondisi ekonomi negara mitra dagang utama. Sebanyak 25 perjanjian perdagangan internasional telah diimplementasikan, sedangkan 13 perjanjian lainnya masih dalam perundingan.

Halaman:12Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram
Uji dirimuTes Logika Ringan: 10 Soal Asah Otak, Berapa Skormu? →
TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair