Indonesia juga akan segera memberlakukan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Kesepakatan itu diharapkan memperluas akses produk nasional ke pasar Uni Eropa.
Nilai impor September tercatat US$24,23 miliar. Impor barang baku dan penolong tumbuh 3,12% secara bulanan serta 24,65% secara tahunan. Impor barang modal naik 12,14% secara bulanan dan 1,25% secara tahunan.
Kenaikan impor bahan baku, barang penolong, dan barang modal mencerminkan kebutuhan input, mesin, serta peralatan untuk mendukung kegiatan industri. Angka tersebut memberi konteks penting bagi penguatan produksi: kapasitas industri juga ditopang oleh ketersediaan barang yang diperlukan untuk membuat produk.
Sebaliknya, impor migas turun 7,35% secara bulanan menjadi US$3,27 miliar. Pemerintah mengaitkan penurunan itu dengan langkah menjaga ketahanan energi, termasuk pelaksanaan mandatori biodiesel B50 sejak 1 Juli 2026.
Inflasi masih dalam sasaran, pangan perlu diwaspadai
Inflasi Indonesia pada Oktober 2026 tercatat 3,23% secara tahunan. Angka itu masih berada dalam sasaran inflasi nasional sebesar 2,5% plus minus 1%.
Inflasi inti melandai menjadi 2,56% secara tahunan, sedangkan inflasi harga yang diatur pemerintah tercatat 3,24%. Namun, inflasi pangan bergejolak meningkat menjadi 5,81% secara tahunan.
Tekanan harga pangan terutama datang dari cabai rawit, cabai merah, dan tomat. Pemerintah mengaitkan kenaikan harga hortikultura dengan penurunan produksi seiring fenomena El Niño yang memperpanjang musim kemarau.
Risiko ini terasa langsung pada rumah tangga melalui harga bahan pangan, sekaligus menjadi perhatian bagi kelancaran pasokan. Pemerintah menyiapkan langkah untuk mengantisipasi gangguan produksi dan distribusi menjelang Natal dan Tahun Baru, termasuk pengelolaan air serta jaringan irigasi, pengaturan pola tanam, pemanfaatan lahan produktif, dan penguatan sistem peringatan dini.
Koordinasi distribusi antardaerah juga akan diperkuat melalui optimalisasi Kerja Sama Antar Daerah (KAD), disertai pemantauan harga dan ketersediaan pangan. Upaya ini ditujukan untuk membantu menjaga pasokan ketika produksi hortikultura menghadapi tekanan.
Airlangga mengatakan pemerintah akan melanjutkan instrumen pembiayaan dan insentif untuk mendukung produksi serta investasi. Program yang disebut mencakup Kredit Usaha Rakyat (KUR), Kredit Alsintan, Kredit Industri Padat Karya (KIPK), dan Kredit Program Perumahan.
Pemerintah juga mendorong peningkatan kompetensi tenaga kerja melalui program magang dan pelatihan vokasi sesuai kebutuhan industri. Airlangga menyatakan pengendalian inflasi diperlukan agar daya beli masyarakat terjaga dan dunia usaha memiliki kepastian dalam menjalankan kegiatan.
Rangkaian indikator tersebut menjadi gambaran kondisi ekonomi sebelum rilis PDB kuartal III pada 5 November. PMI yang menguat, ekspor yang tumbuh, dan inflasi yang masih dalam sasaran memberi konteks, tetapi angka pertumbuhan ekonomi resmi tetap menjadi data yang ditunggu.
Penguatan permintaan ekspor baru pada Oktober tercatat sebagai yang tertinggi sejak survei dimulai pada April 2011.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.