JAKARTA — Ekonomi kreatif Pidie Jaya berpeluang mendapat dukungan khusus setelah pemerintah kabupaten mengupayakan pembentukan struktur organisasi yang menangani sektor itu. Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menilai langkah tersebut dapat membantu potensi lokal menjadi sumber pertumbuhan ekonomi daerah.
Dampaknya menyentuh pelaku usaha dan pekerja setempat. Produk seperti Batik Kakao dan sepatu kulit berpeluang memperoleh pendampingan, penguatan merek, serta akses pasar jika rencana pembentukan struktur itu berjalan dan berkolaborasi dengan pemerintah pusat.
Riefky menyampaikan pandangan itu dalam keterangan di Jakarta, Rabu. Ia menilai pengelolaan ekonomi kreatif yang lebih terarah dapat berkontribusi terhadap produk domestik regional bruto atau PDRB, sekaligus membuka lapangan kerja dan kesempatan usaha.
“Ekonomi kreatif ini lagi berkembang pesat di berbagai daerah dan kami melihat potensi Kabupaten Pidie Jaya yang cukup tinggi. Nanti output-nya bisa memberikan kontribusi terhadap PDRB dan lapangan kerja,” kata Riefky.
Bagaimana ekonomi kreatif Pidie Jaya bisa berkembang?
Kunci awalnya adalah menghadirkan struktur pemerintah daerah yang secara khusus mengakomodasi urusan ekonomi kreatif. Ketua Baleg DPRK Pidie Jaya Nazarudin Ismail mengatakan pihaknya tengah mengupayakan pembentukan struktur organisasi dan tata kerja untuk sektor tersebut.
Urusan ekonomi kreatif direncanakan berada di bawah Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Struktur itu diharapkan memperjelas koordinasi program sekaligus memudahkan pelaku usaha mencari dukungan untuk mengembangkan produk.
Pidie Jaya memiliki potensi di bidang fesyen dan kuliner. Batik Kakao dan sepatu kulit disebut sebagai produk lokal yang dapat diperkuat melalui peningkatan kapasitas pelaku usaha dan perluasan akses pasar. Tantangannya bukan sekadar menghasilkan produk, tetapi juga membantu talenta lokal menjangkau pembeli lebih luas.
Untuk mendukung pengembangan itu, Kementerian Ekonomi Kreatif membuka peluang kolaborasi melalui Aktivasi Desa Kreatif, Creative Hub, dan Creative by Indonesia. Program-program tersebut diarahkan untuk membantu pengembangan talenta, memperluas jejaring pelaku ekonomi kreatif, serta membuka akses pasar bagi produk daerah.
Riefky mengatakan dukungan kementerian dapat menyasar pengembangan keterampilan sekaligus penguatan merek produk. “Nanti ada dua yang bisa kita intervensi, baik itu pengembangan talenta maupun brand-nya terkait akses pasar,” ujarnya.
Akses pasar menjadi kebutuhan pelaku lokal
Bagi pelaku usaha, dukungan itu bisa menentukan apakah produk lokal berhenti di pasar sekitar atau mampu berkembang lebih jauh. Pelatihan dan pendampingan dapat memperkuat kemampuan produksi, sementara akses pasar membantu produk menemukan pembeli dan meningkatkan nilai tambahnya.
Nazarudin menyebut talenta kreatif di Pidie Jaya mengharapkan pelatihan, pendampingan, dan akses pasar. Menurut dia, pengembangan sektor ini membutuhkan dukungan pemerintah daerah sekaligus sinergi dengan pemerintah pusat.
“Tentu mereka (talenta kreatif) ini sangat menginginkan pelatihan, pendampingan hingga akses pasar sehingga mereka bisa ekspansi lebih lanjut. Sehingga pengembangan ekonomi kreatif di Pidie Jaya dapat terwujud dengan adanya dinas dan sinergi dengan pemerintah pusat dan daerah,” kata Nazarudin.
Pembentukan struktur khusus menjadi langkah yang sedang diupayakan, bukan akhir dari pengembangan sektor. Bagi produk seperti Batik Kakao dan sepatu kulit, manfaatnya akan bergantung pada tindak lanjut: koordinasi program, pendampingan pelaku, serta terbukanya akses menuju pasar yang lebih luas.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.