Kamis, 5 November 2026 WIB
EKONOMI

IHSG Anjlok 3,78%, Saham Bank dan Isu Kuota Nikel Membebani

IHSG Anjlok 3,78%, Saham Bank dan Isu Kuota Nikel Membebani
IHSG Anjlok 3,78%, Saham Bank dan Isu Kuota Nikel Membebani

IHSG ditutup di level 4.904,28 setelah kehilangan 3,78% pada perdagangan Selasa, 3 November 2026. Saham bank berkapitalisasi besar menekan indeks, sementara wacana pemangkasan kuota produksi nikel ikut membayangi saham-saham tambang.

Indeks sempat bergerak di antara 5.143,58 dan titik terendah 4.895,59. Rentang itu memperlihatkan tekanan yang kuat sepanjang sesi. Pelemahan tidak hanya datang dari saham-saham besar, karena sejumlah emiten tambang nikel juga masuk dalam kelompok pemberat.

Tekanan utamanya terlihat pada saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Keduanya disebut sebagai bagian dari saham big caps yang amblas dan mendorong IHSG melemah. Sepuluh saham dengan kontribusi negatif terbesar teratas berasal dari kelompok big caps, sedangkan sepuluh lainnya lebih banyak diisi saham tambang.

Ada tekanan tambahan.

Perhatian pasar tertuju pada sentimen Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2027 yang diwacanakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia. Bahlil memberi sinyal kuota produksi nikel kemungkinan kembali dipangkas pada 2027. Isu itu menjadi latar bagi tekanan pada beberapa saham produsen nikel.

Istilah “Bahlil Effect” dalam konteks ini merujuk pada respons pasar terhadap wacana tersebut. Namun, penurunan IHSG tidak semata-mata dikaitkan dengan isu nikel. Faktor yang lebih langsung tercermin dalam pergerakan indeks adalah ambruknya saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya saham perbankan yang disebut ikut menekan perdagangan.

Dengan demikian, hubungan antara wacana kuota dan pelemahan saham nikel tampak pada sentimen yang menghampiri sektor itu, sementara data pergerakan indeks juga menunjukkan tekanan dari big caps. Bagi investor, dua sumber tekanan tersebut perlu dibedakan: kinerja saham besar yang membebani indeks dan respons saham tambang terhadap pembahasan kebijakan produksi.

Pada data per 3 November 2026, daftar 20 saham laggard terbesar memuat sepuluh saham big caps di posisi teratas. Sepuluh saham berikutnya didominasi emiten tambang, beberapa di antaranya bergerak di produksi nikel. Komposisi itu menggambarkan bahwa koreksi menyebar dari saham-saham besar ke sektor tambang, bukan hanya bertumpu pada satu kelompok saham.

Perkembangan yang layak dicermati berikutnya ialah arah wacana kuota nikel 2027 dan pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar. Keduanya berada di pusat tekanan pada sesi tersebut. IHSG mengakhiri perdagangan di level 4.904,28, hanya sedikit di atas titik terendah hari itu, 4.895,59.

(AP)

Artikel Untuk Anda

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram
Uji dirimuTes Hitungan dan Logika Cepat: 10 Soal Jebakan Otak, Berapa Skormu? →
TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair