Kamis, 5 November 2026 WIB
HUKUM KRIMINAL

Pembunuhan Madiun: Dwi Bagus Pelajari Zat Kimia lewat AI

Pembunuhan Madiun
Pembunuhan Madiun

MADIUN — Pembunuhan Madiun yang menewaskan Dini Hardiyanti dan anaknya, AGF, berawal dari percekcokan soal kebutuhan hidup, menurut penyidik Polda Jawa Timur. Tersangka Dwi Bagus Martono juga disebut mempelajari penggunaan zat kimia melalui AI sebelum menyiapkan cara untuk menghilangkan jasad korban.

Ajun Komisaris Polisi Arbaridi Jumhur, Kepala Subdirektorat III Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Timur, mengatakan pertengkaran kerap terjadi setelah Dwi Bagus dan Dini pindah dari Samarinda ke Madiun. Polisi menyebut persoalan ekonomi menjadi latar perselisihan itu.

Kasus ini memperlihatkan dua hal yang kini menjadi bagian penyidikan: perubahan keterangan tersangka dan persiapan untuk menghilangkan jejak. Polisi menyebut jasad korban akhirnya dibakar setelah rencana menggunakan larutan kimia tidak terlaksana.

Apa yang diungkap polisi soal pembunuhan Madiun?

Arbaridi mengatakan Dwi Bagus mengubah keterangannya tentang lokasi pembunuhan AGF, anak berusia empat tahun. Mula-mula tersangka menyebut anak itu dibunuh di dalam mobil Suzuki Karimun, lalu ia menyatakan peristiwa terjadi di ruang tamu rumah orang tuanya.

Menurut keterangan tersangka yang disampaikan polisi, jasad AGF sempat disimpan di rumah itu selama dua hari sebelum dipindahkan. Perubahan versi tersebut menjadi bagian dari rangkaian informasi yang didalami penyidik.

“Satu lagi terkait eksekusi korban kedua, ya. Jadi ada perubahan, tadinya di Mobil Karimun sekarang berubah pernyataan di dalam rumah, di rumah orang tua itu, di ruang tamu. Jadi sempat disimpan di situ dua hari,” kata Arbaridi.

Perbedaan keterangan itu penting karena lokasi yang disebut tersangka berubah dalam pemeriksaan. Polisi juga menyampaikan bahwa penyidik menemukan drum dan bahan kimia yang, menurut dugaan mereka, disiapkan sebagai bagian dari rencana menghilangkan jasad.

Bagaimana AI masuk dalam rencana tersangka?

Polisi menyebut Dwi Bagus sempat mempertimbangkan merendam jasad korban dengan larutan kimia. Rencana itu tidak dilakukan; tersangka kemudian membakar jasad korban. Arbaridi mengatakan tersangka mempelajari penggunaan zat kimia dengan bantuan kecerdasan buatan.

“Semua dipelajari (dengan AI), termasuk penggunaan zat kimia,” ujar Arbaridi.

AI dalam kasus ini bukan sekadar alat untuk mencari informasi umum. Polisi mengaitkannya dengan upaya tersangka memahami penggunaan bahan kimia untuk menghilangkan jejak, sehingga temuan tersebut menjadi bagian dari pemeriksaan perkara. Namun, keterangan itu merupakan penjelasan penyidik mengenai apa yang dipelajari tersangka, bukan rincian teknis tentang zat atau proses yang digunakan.

Dampaknya nyata bagi penyidikan dan masyarakat: perangkat digital yang dipakai untuk mencari pengetahuan juga dapat menyimpan petunjuk tentang rencana seseorang.

Dalam perkara ini, keterangan polisi mengenai pembelajaran lewat AI berjalan berdampingan dengan temuan drum, bahan kimia, serta perubahan cerita mengenai lokasi pembunuhan. Informasi digital dan bukti fisik sama-sama membantu penyidik menyusun urutan kejadian.

Jenazah korban diserahkan kepada keluarga

Di luar perkembangan penyidikan di Madiun, jenazah Dini dan anaknya telah diserahkan kepada keluarga di RS Bhayangkara Polda Jawa Timur pada Rabu (4/11), sekitar pukul 13.00 WIB. Keduanya kemudian dibawa ke Megamendung, Bogor, Jawa Barat.

Pemeriksaan identitas fragmen tulang mendahului penyerahan tersebut. Kombes Wahono Edi Prastowo, Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Jawa Timur, mengatakan pemeriksaan DNA terhadap 15 fragmen menunjukkan kecocokan dengan sampel pembanding dari ibu korban. Jenazah tiba di rumah keluarga pada Kamis (5/11/2026) sekitar pukul 03.20 WIB, disambut keluarga dan kerabat.

Arbaridi menyebut perselisihan terkait kebutuhan hidup sebagai latar hubungan tersangka dan Dini. “Jadi motifnya itu ya, memang setelah hidup bersama dari Samarinda itu ya, bahwa di lokasi baru ini, di Madiun ini, sering terjadi percekcokan yang dilatarbelakangi terkait kebutuhan hidup, ya. Ekonomi,” katanya.

(PE)

Artikel Untuk Anda

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram
Uji dirimuTes Hitungan dan Logika Cepat: 10 Soal Jebakan Otak, Berapa Skormu? →