MADIUN — Pembunuhan Madiun yang menewaskan Dini Hardiyanti dan anaknya, AGF, berawal dari percekcokan soal kebutuhan hidup, menurut penyidik Polda Jawa Timur. Tersangka Dwi Bagus Martono juga disebut mempelajari penggunaan zat kimia melalui AI sebelum menyiapkan cara untuk menghilangkan jasad korban.
Ajun Komisaris Polisi Arbaridi Jumhur, Kepala Subdirektorat III Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Timur, mengatakan pertengkaran kerap terjadi setelah Dwi Bagus dan Dini pindah dari Samarinda ke Madiun. Polisi menyebut persoalan ekonomi menjadi latar perselisihan itu.
Kasus ini memperlihatkan dua hal yang kini menjadi bagian penyidikan: perubahan keterangan tersangka dan persiapan untuk menghilangkan jejak. Polisi menyebut jasad korban akhirnya dibakar setelah rencana menggunakan larutan kimia tidak terlaksana.
Apa yang diungkap polisi soal pembunuhan Madiun?
Arbaridi mengatakan Dwi Bagus mengubah keterangannya tentang lokasi pembunuhan AGF, anak berusia empat tahun. Mula-mula tersangka menyebut anak itu dibunuh di dalam mobil Suzuki Karimun, lalu ia menyatakan peristiwa terjadi di ruang tamu rumah orang tuanya.
Menurut keterangan tersangka yang disampaikan polisi, jasad AGF sempat disimpan di rumah itu selama dua hari sebelum dipindahkan. Perubahan versi tersebut menjadi bagian dari rangkaian informasi yang didalami penyidik.
“Satu lagi terkait eksekusi korban kedua, ya. Jadi ada perubahan, tadinya di Mobil Karimun sekarang berubah pernyataan di dalam rumah, di rumah orang tua itu, di ruang tamu. Jadi sempat disimpan di situ dua hari,” kata Arbaridi.
Perbedaan keterangan itu penting karena lokasi yang disebut tersangka berubah dalam pemeriksaan. Polisi juga menyampaikan bahwa penyidik menemukan drum dan bahan kimia yang, menurut dugaan mereka, disiapkan sebagai bagian dari rencana menghilangkan jasad.
Bagaimana AI masuk dalam rencana tersangka?
Polisi menyebut Dwi Bagus sempat mempertimbangkan merendam jasad korban dengan larutan kimia. Rencana itu tidak dilakukan; tersangka kemudian membakar jasad korban. Arbaridi mengatakan tersangka mempelajari penggunaan zat kimia dengan bantuan kecerdasan buatan.
“Semua dipelajari (dengan AI), termasuk penggunaan zat kimia,” ujar Arbaridi.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.