Kamis, 5 November 2026 WIB
DAERAH

PM-AAS Grobogan: Lahan Tanam Tumbuh, Target 11 Ton

PM-AAS Grobogan
PM-AAS Grobogan

GROBOGAN — PM-AAS di Grobogan telah menanami sekitar 3.500 hektare dari target pengembangan 7.500 hektare. Wakil Menteri Pertanian Alim Setiawan Slamet meninjau pertumbuhan padi di Desa Jatilor, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Selasa (3/11), dengan sasaran hasil panen 10–11 ton per hektare.

Tanaman yang ditinjau masih menunjukkan pertumbuhan sesuai harapan. Kementerian Pertanian mengembangkan sistem ini untuk mendorong budidaya padi yang lebih produktif dan efisien, sementara pengawalan sampai panen akan menentukan apakah sasaran hasilnya tercapai.

PM-AAS Grobogan mengejar hasil panen 10–11 ton

Alim melihat perkembangan tanaman dan penerapan budidaya padi intensif berbasis teknologi tinggi. Sistem Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) itu diperkenalkan Kementerian Pertanian selama dua tahun terakhir.

“Alhamdulillah, kita bisa melihat pertumbuhannya sesuai dengan yang diharapkan. Petani juga mendukung penerapan program ini bersama pemerintah daerah dan dinas terkait. Harapannya, produktivitas bisa meningkat hingga dua kali lipat, minimal mencapai 10-11 ton per hektare,” ujar Alim.

Target tersebut menjadi ukuran penting, bukan sekadar luas lahan yang sudah ditanami. Menurut Alim, keberhasilan PM-AAS perlu dilihat dari kemampuan sistem budidaya itu menaikkan produksi. Karena itu, kondisi tanaman harus terus dikawal hingga masa panen.

Ada pekerjaan panjang setelah tanam. Pertumbuhan yang terlihat saat ini belum sama dengan hasil panen, sehingga pendampingan dan pelaksanaan budidaya sampai akhir musim akan menentukan capaian produktivitas.

Dari lahan Grobogan ke target nasional

Pengembangan PM-AAS di Grobogan berjalan di tengah sasaran perluasan areal tanam nasional yang mencapai 1 juta hektare, menurut penjelasan Alim. Angka itu memberi skala lebih luas pada program: pengalaman budidaya di satu wilayah dapat menjadi perhatian bagi upaya pengembangan pertanian padi di tingkat nasional.

Bagi petani, dampak yang dijanjikan program ini berkaitan langsung dengan hasil dari lahan yang mereka garap. Jika target produktivitas tercapai, sistem tersebut diharapkan menghasilkan panen lebih tinggi dibandingkan pola budidaya reguler. Namun, hasil itu tetap bergantung pada perkembangan tanaman dan pengawalan hingga panen, bukan hanya pada luas areal yang sudah ditanami.

Alim berharap hasil PM-AAS setidaknya mencapai 10 ton per hektare dan melampaui pola budidaya reguler. Ia juga mengapresiasi dukungan petani, pemerintah daerah, serta dinas terkait dalam penerapan program di Grobogan.

Petani daerah lain mulai belajar langsung

Perkembangan tanaman turut menarik perhatian kelompok tani dari wilayah lain. Solikun, Penyuluh Pertanian Lapangan setempat, mengatakan sejumlah petani datang untuk melihat penerapan PM-AAS meski tanaman masih berada dalam fase vegetatif.

“Petani sangat senang karena ini menjadi hal baru bagi mereka. Bahkan, meskipun tanaman masih dalam fase vegetatif, sudah banyak kelompok tani dari wilayah lain di Kabupaten Grobogan yang datang untuk melihat langsung perkembangannya,” kata Solikun.

Salah satu rombongan berasal dari kelompok tani Desa Tanjungharjo, Kecamatan Ngaringan. Mereka datang bersama penyuluh untuk mempelajari perkembangan tanaman secara langsung. Kunjungan itu menunjukkan bahwa penerapan sistem di Jatilor mulai menjadi tempat belajar bagi petani di wilayah Grobogan.

Tahap berikutnya adalah menjaga pertumbuhan tanaman hingga panen dan mengukur hasilnya terhadap sasaran 10–11 ton per hektare. Capaian di lahan yang sudah ditanami akan menjadi penentu apakah target produktivitas PM-AAS di Grobogan dapat terwujud.

(AP)

Artikel Untuk Anda

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram
Uji dirimuTes Hitungan dan Logika Cepat: 10 Soal Jebakan Otak, Berapa Skormu? →