CIBINONG — Habib Husein Ja’far Al Hadar meminta pendamping Sekolah Rakyat memahami pengalaman hidup siswa sebelum menilai perilaku mereka dalam acara Penguatan SDM Sekolah Rakyat di Kabupaten Bogor, Kamis (5/11) malam. Ia mengingatkan bahwa perilaku negatif anak dapat berakar dari trauma dan kondisi keluarga, bukan semata kenakalan.
Pesan itu ditujukan kepada guru bimbingan konseling, wali asuh, wali asrama, satuan pengamanan, serta operator Sekolah Rakyat. Cara pendamping berkomunikasi dengan siswa dapat menentukan apakah mereka merasa didengar atau justru semakin tertekan saat menghadapi persoalan.
Habib Ja’far hadir bersama Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono dalam kegiatan yang digelar di Harris Hotel and Conventions Cibinong City Mall. Keduanya membekali sumber daya manusia Sekolah Rakyat mengenai pendekatan dalam mendidik dan mendampingi siswa.
Sekolah Rakyat perlu mengutamakan empati
Habib Ja’far mengatakan perilaku yang dianggap bermasalah perlu dipahami dengan melihat latar belakang anak. Pengalaman hidup dan keadaan keluarga, menurut dia, dapat memengaruhi cara siswa bersikap.
“Kenakalan mereka itu bukan muncul dari kebencian mereka, tetapi bisa muncul dari trauma,” kata Habib Ja’far dalam acara tersebut.
Pendekatan ini menuntut pendamping untuk tidak buru-buru menghakimi atau memarahi siswa. Mereka perlu membangun kedekatan melalui komunikasi dan perhatian, sehingga anak punya ruang untuk menceritakan apa yang dialaminya.
Mulai dari percakapan sederhana. Habib Ja’far mendorong para pendamping lebih sering berbincang dengan siswa agar dapat memahami sudut pandang mereka sebelum merespons perilaku yang muncul.
“Sering-seringlah ngobrol bersama mereka, sampai anda bisa merasakan pahit getir posisi mereka. Agar anda tidak gampang marah kepada mereka,” pesannya.
Pendampingan bukan sekadar pekerjaan
Bagi siswa, dampak pendekatan orang dewasa terasa langsung dalam keseharian di sekolah dan asrama. Pendamping yang mau mendengar dapat membantu anak menyampaikan kesulitan tanpa langsung berhadapan dengan teguran atau penilaian.
Namun, empati tidak berarti mengabaikan tanggung jawab dalam mendampingi siswa. Habib Ja’far menekankan bahwa pekerjaan ini membutuhkan ketulusan sekaligus profesionalitas. Para pendamping tetap perlu menjalankan perannya dengan serius, sambil memahami bahwa perilaku anak bisa memiliki latar yang lebih rumit daripada yang terlihat.
Pesan tersebut relevan bagi beragam petugas yang berinteraksi dengan siswa, bukan hanya guru. Wali asrama, wali asuh, petugas keamanan, dan operator juga menjadi bagian dari lingkungan yang ditemui anak dalam program Sekolah Rakyat.
Penguatan SDM itu menempatkan hubungan sehari-hari sebagai bagian penting dari pendampingan. Cara menyapa, mendengar cerita, dan merespons masalah bisa memengaruhi rasa aman siswa saat menjalani pendidikan.
Acara berlangsung di Kabupaten Bogor pada Kamis malam. Para pendamping Sekolah Rakyat diharapkan membawa pendekatan empatik itu ke dalam interaksi dengan siswa, dengan tetap menjaga ketulusan dan profesionalitas dalam menjalankan tugas.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.