Sabtu, 7 November 2026 WIB
INTERNASIONAL

COP31 Turki Hadapi Desakan Reformasi Sistem Konsensus

COP31 Turki dan ruang konferensi iklim menjelang perundingan reformasi
Ruang konferensi iklim menjelang COP31 di Antalya, Turki. (Ilustrasi: AI)

Dana kompensasi kerugian dan kerusakan iklim menjadi salah satu contoh. Kesepakatan mengenai dana itu baru tercapai pada 2022 setelah tujuh tahun perundingan. Surat Club of Rome menyebut laju tersebut bertentangan dengan temuan ilmu iklim serta kerusakan dan risiko yang sudah terjadi.

Usulan reformasi apa yang muncul?

Usulan yang dibicarakan mencakup penyelenggaraan COP setiap dua tahun, konferensi dengan skala lebih kecil, hingga penghapusan keputusan berbasis konsensus. Pilihan-pilihan itu mencerminkan perdebatan tentang cara membuat perundingan lebih mampu merespons keadaan darurat iklim.

Menteri Transisi Ekologi Prancis Monique Barbut menyoroti frekuensi pertemuan. Ia menyebut munculnya “kelelahan COP” karena konferensi berlangsung terlalu sering. Menurut Barbut, forum ini adalah badan hukum internasional yang seharusnya membahas isu substantif dengan konsekuensi hukum jelas, bukan sekadar menjadi agenda diplomatik tahunan.

Barbut mengusulkan agar COP resmi berlangsung dua tahun sekali. Pertemuan setiap tahun masih dapat dilakukan, tetapi dengan status berbeda. Model dua tahunan telah digunakan oleh COP Keanekaragaman Hayati dan COP Desertifikasi, dua konvensi lingkungan PBB lainnya.

Dampaknya terasa pada upaya negara menyepakati tindakan yang dapat menahan kenaikan emisi dan mengurangi risiko bagi masyarakat. Jika perundingan tetap berjalan lambat sementara cuaca ekstrem sudah menghancurkan permukiman dan infrastruktur, keputusan internasional berisiko tertinggal dari kebutuhan di lapangan.

Tekanan terhadap sistem COP juga hadir saat Amerika Serikat menjauh dari proses diplomasi iklim. Negara itu merupakan ekonomi terbesar dunia dan penghasil emisi terbesar kedua. Di bawah Presiden Donald Trump, Amerika Serikat kembali mengambil jarak, sementara Trump berulang kali menyebut pemanasan global sebagai “tipuan”.

Tidak semua pihak menganggap perubahan struktur COP sebagai satu-satunya jalan. Ada pandangan bahwa negara-negara yang ingin bergerak lebih cepat dapat membentuk koalisi di luar kerangka formal PBB; pendekatan itu mulai terlihat setelah COP30 di Brasil.

Di Antalya, para peserta akan kembali berunding tentang respons global terhadap pemanasan, sementara seruan untuk mengubah cara konferensi bekerja terus menguat.

Halaman:12Semua Halaman

(PE)

Artikel Untuk Anda

📲
Ikuti JournalArta di WhatsApp & Telegram

Berita terpenting nasional, ekonomi, dan teknologi langsung di HP-mu. Gratis, tanpa spam.

Bagikan: Facebook Twitter Telegram
Fakta atau hoaks? Uji kejelianmuFakta atau Hoaks? 6 Kabar Viral Awal November 2026 →