Sabtu, 7 November 2026 WIB
LIFESTYLE

Sifat Tamak dalam Islam: Nafsu Harta yang Memicu Kerusakan Sosial

Sifat Tamak dalam Islam
Sifat Tamak dalam Islam

Rantai kerusakannya bisa bermula dari rasa tidak pernah cukup. Keinginan yang terus bertambah menumbuhkan dengki dan hasad, lalu memicu permusuhan serta perbuatan keji dan mungkar. Bagi masyarakat, dampak konkretnya adalah hak orang lain terancam dan hubungan antarwarga dapat memburuk.

Mengapa orang tamak sulit merasa cukup?

Orang yang dikuasai ketamakan cenderung menilai hartanya masih kurang, berapa pun yang sudah dimiliki. Karena selalu membandingkan keinginan dengan apa yang belum diperoleh, ia sulit mensyukuri pemberian Allah SWT.

Pola tersebut juga menjelaskan mengapa sifat serakah tidak otomatis berhenti setelah seseorang mendapat keuntungan. Jika rasa cukup tidak menjadi batas, tambahan harta justru membuka keinginan baru. Kepentingan orang lain pun berisiko kembali tersisih.

Peringatan tentang ambisi terhadap harta disampaikan Rasulullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim. Beliau bersabda: “Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah. Tidak ada yang dapat memenuhi mulutnya selain tanah (kematian). Dan Allah menerima tobat orang yang bertobat.”

Hadis itu menggambarkan keinginan manusia yang dapat terus bertambah, sekaligus mengingatkan bahwa ketamakan bukan keadaan yang harus dipelihara. Bagian akhir sabda tersebut menegaskan terbukanya tobat bagi orang yang kembali, sementara peringatan tentang harta tetap menjadi pengingat atas bahaya hidup tanpa rasa cukup.

Halaman:12Semua Halaman

(AG)

Artikel Untuk Anda

📲
Ikuti JournalArta di WhatsApp & Telegram

Berita terpenting nasional, ekonomi, dan teknologi langsung di HP-mu. Gratis, tanpa spam.

Bagikan: Facebook Twitter Telegram
Fakta atau hoaks? Uji kejelianmuFakta atau Hoaks? 6 Kabar Viral Awal November 2026 →
TRENDING Cek Weton Tanggal Lahir: Kalkulator Hari, Pasaran, dan Neptu Jawa