Minggu, 8 November 2026 WIB
TEKNOLOGI

Ulanqab Jadi Pusat Data AI, Lahan Kentang Warga Menyusut

Petani kentang Ulanqab di dekat pembangunan pusat data AI
Lahan pertanian di Ulanqab beralih untuk pembangunan pusat data AI, memicu perubahan bagi petani dan usaha lokal. (Ilustrasi: AI)

ULANQAB — Ulanqab di Mongolia Dalam, China, mengubah sebagian lahan pertaniannya menjadi kawasan pusat data AI, mengurangi lahan garapan petani sekaligus membuka peluang usaha baru. Perubahan itu berlangsung di wilayah yang lama dikenal sebagai penghasil kentang dan menghadapi persoalan kekurangan air.

Zhang Zhiyong, petani berusia 64 tahun yang sudah menanam kentang selama lebih dari empat dekade, menyerahkan sebagian lahannya untuk pembangunan pusat data. Ia menerima kompensasi lebih dari 200.000 yuan untuk sekitar 0,7 hektare dari lahan keluarga yang luasnya lebih dari 1,3 hektare.

Pusat data AI mengubah lahan kentang Ulanqab

Pembangunan mulai terasa sekitar dua tahun lalu, ketika pengembang mendatangi warga Desa Shengjiaying untuk mencari lahan. Desa itu berada di pinggiran Jining, kawasan perkotaan utama Ulanqab, dan dekat dengan sejumlah proyek pusat data.

Zhang kini menanam kentang hanya di satu mu, satuan luas China yang setara sekitar 670 meter persegi. Sebagian besar lahan yang tersisa ia sewakan kepada petani lain. Kompensasi membuatnya mampu berhenti bekerja, tetapi ia memilih tetap bertani.

“Selama saya masih bisa bekerja, saya akan terus bekerja,” kata Zhang saat mencuci kentang hasil panennya. Rumahnya sedang diperluas, sementara hasil panen yang ia bawa dengan mobil pikap jauh lebih sedikit dibanding masa ketika seluruh lahannya masih ia kelola.

Perubahan ini terasa nyata bagi warga. Mereka berhadapan dengan pilihan untuk melepas sebagian tanah demi pembangunan, lalu mencari penghidupan dari lahan yang tersisa atau aktivitas ekonomi di sekitar proyek.

Mengapa Ulanqab menarik pembangunan pusat data?

Ulanqab telah lama menjadi sentra pertanian. Produksi kentangnya mendekati 4 juta ton per tahun, hampir 5 persen dari total produksi China, berdasarkan laporan media pemerintah pada 2023.

Sekarang, kota itu juga masuk jaringan pusat komputasi nasional China. Pemerintah merancang jaringan tersebut untuk memenuhi kebutuhan pemrosesan data yang terus tumbuh. Strategi “East Data, West Computing” mengalihkan beban komputasi dari wilayah timur yang lebih maju ke kawasan barat dengan lahan dan sumber energi lebih besar.

Letak Ulanqab sekitar 350 kilometer barat laut Beijing. Mongolia Dalam memiliki sumber energi angin dan surya, sedangkan iklim Ulanqab yang relatif sejuk memungkinkan pengelola memanfaatkan udara luar untuk mendinginkan server dan menekan kebutuhan pendingin intensif energi.

Menurut laporan kantor berita pemerintah Xinhua pada Oktober, Ulanqab telah menandatangani 109 proyek pusat komputasi. Hingga Agustus, komputasi yang berfokus pada AI mencakup lebih dari 90 persen kapasitas komputasi kota itu.

Bagaimana pembangunan mengubah usaha warga?

Pembangunan juga menarik pembeli bagi pedagang kecil. Gao Lina, penjual nasi iga babi berusia 46 tahun, pindah ke kawasan klaster pusat data Bayin sekitar setahun lalu setelah mendengar proyek baru akan terus berjalan.

“Bisnis di sini sangat bagus. Saya menjual sekitar 100 porsi sehari, dan biasanya menjelang tengah hari sudah habis,” kata Gao. Di sekitar lokasi, terdapat sekitar 30 warung sederhana yang beroperasi dari mobil van, tenda, atau meja kecil untuk melayani pekerja proyek.

Peluangnya bisa berubah. Seorang pedagang rokok dan makanan ringan di klaster Yiwutang mengatakan jumlah pekerja konstruksi berkurang setelah tahap pembangunan beralih ke pemasangan peralatan. Pelanggannya kini lebih banyak teknisi yang bekerja di dalam pusat data.

Artinya, manfaat ekonomi bagi warga tidak selalu berlangsung sama sepanjang proyek. Warung yang ramai ketika konstruksi berlangsung perlu menyesuaikan diri saat pekerjaan bergeser, sementara petani seperti Zhang menghadapi penyusutan tanah garapan yang lebih menetap.

Bisakah pusat data berkembang di wilayah rawan kekeringan?

Ekspansi itu membawa persoalan yang lebih mendasar: kebutuhan air industri pusat data di wilayah yang lama mengalami kekeringan. Warga setempat mengenal betul dampak kekurangan air terhadap pertanian dan kehidupan sehari-hari.

Gao, seorang petani berusia 57 tahun yang hanya bersedia disebut dengan nama keluarganya, menanam kentang dan ubi jalar di dekat rumahnya. Ia mengenang masa ketika kekeringan berlangsung berbulan-bulan dan tanah pertanian mengering.

“Pernah ada masa ketika kami tidak bisa menanam apa pun karena memang tidak ada air,” katanya. Ia juga mengingat bahwa warga harus menghemat air, bahkan untuk minum.

Presiden China Xi Jinping mengunjungi Zona Pengembangan Teknologi Tinggi Chahar pada 16 Oktober. Kawasan itu menjadi salah satu pusat data utama Ulanqab dan menampung fasilitas perusahaan teknologi, termasuk Huawei, Alibaba, dan Apple.

Dalam kunjungan itu, Xi menerima penjelasan mengenai pembangunan infrastruktur komputasi hijau dan menyerukan koordinasi lebih erat antara sumber daya komputasi, listrik, dan air.

Bagi Ulanqab, pembangunan pusat data kini berjalan berdampingan dengan pertanyaan yang langsung menyentuh kehidupan warga: bagaimana memenuhi kebutuhan industri tanpa mengulangi kesulitan air yang sudah lama mereka alami.

(AN)

Artikel Untuk Anda

📲
Ikuti JournalArta di WhatsApp & Telegram

Berita terpenting nasional, ekonomi, dan teknologi langsung di HP-mu. Gratis, tanpa spam.

Bagikan: Facebook Twitter Telegram
Uji dirimuKuis Sejarah Hari Pahlawan: 10 Soal Pertempuran Surabaya 1945, Berapa Skormu? →
TRENDING Kode Redeem FC Mobile Terbaru 13 Oktober 2026: Klaim Pack & Coins Gratis