JAKARTA — Hidrogen bersih belum menjadi pilihan termurah, tetapi sumber produksinya menentukan biaya dan emisi yang harus ditanggung. Bagi Indonesia, pilihan itu penting: sumber energi terbarukan yang melimpah dapat membuka peluang produksi sekaligus ekspor, jika kebijakan dan infrastrukturnya mendukung.
Harga produksi hidrogen dalam bahan ini berkisar dari USD 1,00 hingga USD 6,00 per kilogram untuk sejumlah jenis yang telah disebutkan. Rentang itu menunjukkan bahwa label hidrogen saja belum cukup untuk menilai apakah suatu pilihan murah atau rendah emisi.
Perbedaan tersebut berawal dari metode produksi. Hidrogen dari bahan bakar fosil cenderung lebih murah, tetapi menghasilkan emisi karbon tinggi. Hidrogen yang memakai energi rendah emisi menawarkan pilihan lebih bersih, dengan biaya yang dapat lebih besar.
Hidrogen bersih dan biaya produksinya
Grey dan brown hydrogen berada di kelompok berbiaya paling rendah, sekitar USD 1,00 hingga USD 2,50 per kilogram. Keduanya dibuat dari bahan bakar fosil melalui steam methane reforming atau gasifikasi, sehingga prosesnya menghasilkan emisi karbon tinggi.
Biaya awal yang rendah bukan satu-satunya pertimbangan. Produksi dengan emisi tinggi dapat menghadapi risiko pajak karbon yang meningkat. Artinya, pilihan yang tampak murah pada tahap produksi berpotensi menghadapi tekanan biaya ketika kebijakan karbon diberlakukan.
Blue hydrogen juga berasal dari bahan bakar fosil, tetapi prosesnya dilengkapi teknologi carbon capture and storage, yaitu penangkapan dan penyimpanan karbon. Biayanya sekitar USD 2,00 hingga USD 3,50 per kilogram, sementara emisinya lebih rendah karena sebagian karbon ditangkap.
Kombinasi biaya yang lebih terjangkau dan emisi lebih rendah mendorong perhatian terhadap hidrogen biru. Dalam strategi bertahap, jenis ini dapat menjadi jembatan sambil kapasitas energi terbarukan dan produksi hidrogen hijau dikembangkan.
Hidrogen hijau menawarkan arah, bukan harga termurah
Green hydrogen atau hidrogen hijau diproduksi dengan elektrolisis yang menggunakan energi terbarukan. Biayanya saat ini sekitar USD 3,00 hingga USD 6,00 per kilogram, sehingga berada di tingkat tinggi dibandingkan hidrogen abu-abu dan cokelat.
Namun, biaya hidrogen hijau disebut terus menurun seiring turunnya biaya energi terbarukan dan meningkatnya skala produksi. Arah penurunan ini menjadi alasan jenis tersebut kerap dipandang sebagai solusi jangka panjang, meski harga sekarang masih menjadi tantangan.
Pink hydrogen juga diproduksi melalui elektrolisis, tetapi memakai tenaga nuklir. Biayanya sekitar USD 3,00 hingga USD 6,00 per kilogram dan emisinya nol. Pengembangannya bergantung pada kebijakan nuklir serta rancangan reaktor baru di tiap negara.
Perbedaan sumber energi itu penting bagi keputusan investasi. Infrastruktur produksi hidrogen tidak berdiri sendiri: pilihan teknologi terkait dengan sumber listrik yang tersedia, biaya, dan target emisi.
Teknologi lain masih menghadapi ketidakpastian
Turquoise hydrogen dibuat melalui pirolisis metana. Biayanya berpotensi berada di kisaran USD 2,00 hingga USD 4,00 per kilogram, dengan emisi rendah dan karbon padat sebagai produk sampingan. Karbon padat itu berpotensi dimanfaatkan, sementara teknologinya masih berkembang.
White hydrogen, atau hidrogen geologis alami, masih dieksplorasi. Biayanya belum diketahui secara pasti, walaupun berpotensi sangat murah dan memiliki emisi nol karena berasal dari sumber alami. Namun, teknologi ini belum terbukti pada skala besar.
Metode solar thermochemical dan photoelectrochemical juga masih berada pada tahap riset dan pengembangan. Biayanya tinggi dan belum pasti, meski keduanya memiliki potensi jangka panjang jika terjadi terobosan.
Ragam pilihan ini memperlihatkan mengapa satu angka biaya tidak cukup untuk membandingkan semua jenis hidrogen. Metode produksi, tingkat emisi, kematangan teknologi, dan kebutuhan kebijakan ikut menentukan nilai ekonominya.
Peluang hidrogen bersih Indonesia
Indonesia memiliki sumber energi surya, angin, panas bumi, dan hidro yang dapat mendukung produksi hidrogen hijau. Jika dikelola dengan baik, sumber tersebut berpeluang memenuhi kebutuhan domestik sekaligus membuka jalan bagi Indonesia untuk menjadi pemain di pasar ekspor.
Dampaknya bergantung pada kemampuan menghubungkan potensi energi dengan fasilitas produksi dan jaringan penyaluran. Penyimpanan serta distribusi perlu mendapat perhatian serius; tanpa infrastruktur itu, hidrogen akan sulit diakses dan harganya dapat tetap mahal.
Karena itu, keputusan investasi perlu menimbang biaya produksi sekarang dan jalur penurunan biaya berikutnya. Mengandalkan hidrogen fosil yang murah tanpa memperhitungkan emisinya membawa risiko, sedangkan mengandalkan hidrogen hijau tanpa menyiapkan infrastruktur dapat menahan penggunaannya.
Strategi bertahap dapat memanfaatkan hidrogen biru sebagai jembatan sambil meningkatkan kapasitas energi terbarukan dan menekan biaya hidrogen hijau. Langkah Indonesia berikutnya bergantung pada kebijakan yang konsisten serta investasi pada produksi, penyimpanan, dan distribusi.











































📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.