Senior Vice President Starlink Michael Nicolls mengatakan kolaborasi tersebut akan mempercepat pengembangan arsitektur jaringan perusahaan. Starlink ingin menggabungkan konektivitas satelit dengan jaringan seluler terestrial, yaitu jaringan yang memakai infrastruktur di darat.
Gabungan itu ditujukan agar pengguna tetap terhubung di berbagai lokasi, baik di dalam maupun di luar ruangan. Dampaknya bergantung pada pembangunan jaringan dan jangkauan yang benar-benar tersedia; target nasional pada 2027 belum berarti layanan langsung hadir di semua tempat.
Bagi industri telekomunikasi, kerja sama ini mempertemukan penyedia teknologi jaringan seluler dengan operator layanan satelit. Pendekatan tersebut dapat memperluas pilihan rancangan jaringan, sementara pengguna akan merasakan manfaatnya jika perpaduan kedua jaringan menghasilkan koneksi yang lebih mudah dijangkau.
Arsitektur disiapkan menuju 6G
Kerja sama Qualcomm dan SpaceX juga mengarah pada pengembangan infrastruktur 6G berbasis kecerdasan buatan atau AI. Namun, tahap awal yang direncanakan tetap berfokus pada jaringan 5G terestrial.
Qualcomm menyebut arsitektur Dragonwing dirancang fleksibel untuk mendukung jaringan multi-band dalam beberapa tahap penerapan. Perusahaan juga menyiapkan arsitektur itu agar dapat dikembangkan untuk kebutuhan konektivitas dan pemrosesan jaringan mendatang.
Rencana menuju 6G belum mengubah fokus pembangunan awal: jaringan 5G Starlink Mobile yang ditargetkan mulai digelar secara nasional pada 2027. Nicolls menyebut kerja sama dengan Qualcomm akan mempercepat pengembangan arsitektur jaringan Starlink.











































📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.