Sabtu, 10 Oktober 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Video: Respons Cepat BI Jaga Rupiah dan Pastikan Volatilitas Terjaga

Video: Respons Cepat BI Jaga Rupiah dan Pastikan Volatilitas Terjaga
Video: Respons Cepat BI Jaga Rupiah dan Pastikan Volatilitas Terjaga

JAKARTA — Tekanan pada rupiah menjadi perhatian Bank Indonesia saat arus modal asing keluar dari pasar negara berkembang. Gubernur BI Destry Damayanti menyebut bank sentral merespons gejolak pasar melalui intervensi di sejumlah pasar valuta asing.

Bagi Indonesia, pergerakan itu berkaitan dengan ketidakpastian geopolitik dan kondisi keuangan global. BI menilai fundamental ekonomi dalam negeri masih baik, tetapi tekanan eksternal dapat memengaruhi nilai tukar rupiah.

Dalam dialog dengan Andi Shalini di program Power Lunch CNBC Indonesia yang tayang Jumat, 09/10/2026, Destry menjelaskan tantangan yang dihadapi bank sentral. Ia menyebut ketidakpastian geopolitik global masih tinggi dan berdampak terhadap perekonomian dunia.

Respons BI jaga rupiah di tengah tekanan global

Destry mengatakan gejolak di Timur Tengah memengaruhi rantai pasok global. Situasi itu turut berkaitan dengan kenaikan inflasi global, termasuk di Amerika Serikat, serta kenaikan imbal hasil US Treasury dan penguatan indeks dolar AS.

Kondisi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama juga menekan pasar keuangan global. Dalam bahan yang disampaikan CNBC Indonesia, situasi itu tercermin pada meningkatnya arus modal asing keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dampaknya terasa di pasar domestik. Arus keluar modal menambah tekanan terhadap pasar keuangan dan ikut mendorong pelemahan nilai tukar rupiah. Perubahan tersebut penting bagi pelaku usaha dan masyarakat karena nilai tukar menjadi salah satu kondisi yang dipantau dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.

BI menyatakan akan merespons tekanan rupiah melalui intervensi pasar. Destry menyebut langkah itu dilakukan di pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), serta non-deliverable forward (NDF).

Intervensi di beberapa pasar tersebut menjadi bagian dari upaya bank sentral menghadapi volatilitas. Bahan sumber tidak merinci besaran intervensi maupun target nilai tukar tertentu, sehingga arah langkah BI yang dapat dipastikan dari keterangan itu adalah penggunaan instrumen di pasar spot dan kontrak berjangka terkait rupiah.

BI menilai fundamental Indonesia masih baik

Di tengah tekanan eksternal, BI melihat kondisi fundamental Indonesia masih terjaga. Destry menyebut pertumbuhan ekonomi masih kuat dan inflasi berada dalam rentang proyeksi bank sentral.

Penilaian itu menjadi konteks penting dalam membaca respons BI. Tekanan terhadap rupiah berlangsung bersamaan dengan gejolak global, sementara bank sentral menyatakan kondisi domestik masih ditopang pertumbuhan dan inflasi yang sesuai proyeksi.

Bagi masyarakat dan dunia usaha, perkembangan nilai tukar tetap perlu dicermati karena tekanan di pasar domestik berkaitan dengan arus modal global. Namun, bahan sumber tidak menyebut dampak langsung terhadap harga barang, biaya usaha, atau keputusan suku bunga; hal-hal tersebut tidak dapat dipastikan hanya dari keterangan yang disampaikan.

CNBC Indonesia mengangkat pembahasan arah kebijakan BI menghadapi volatilitas global dalam dialog Andi Shalini dengan Destry di Power Lunch. Fokus yang disampaikan adalah bagaimana bank sentral menjaga rupiah melalui respons cepat ketika ketidakpastian global menekan pasar.

Destry menegaskan BI mengantisipasi arus modal keluar yang menekan rupiah dengan intervensi di pasar spot, DNDF, dan NDF.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda

TRENDING Link DANA Kaget Hari Ini 10 Agustus 2026: Klaim Saldo DANA Gratis Langsung Cair