JournalArta
Tuesday, October 6, 2026 · JakartaS&P 7,828.10 ▲0.70%USD/IDR 17,905 ▼0.02%Subscribe
JournalArta
Global Edition
beyond headlines
Advertisement
Markets · Stocks

S&P 500 Hits Intraday Record as Tech Stocks Rally and Yields Fall

Menyentuh rekor tertinggi intraday pada Selasa, didorong kenaikan saham teknologi dan penurunan harga minyak serta imbal hasil Treasury. Indeks kemudian…

By Alistair Sterling
October 6, 20262 min read
S&P 500 Hits Intraday Record as Tech Stocks Rally and Yields Fall
S&P 500 Hits Intraday Record as Tech Stocks Rally and Yields Fall

S&P 500 menyentuh rekor tertinggi intraday pada Selasa, saat kenaikan saham teknologi dan penurunan harga minyak serta imbal hasil Treasury mendorong pasar saham Amerika Serikat naik. Pergerakan itu menunjukkan investor masih membeli saham meski biaya pinjaman jangka panjang berada dekat level tertinggi dalam beberapa dekade.

Indeks pasar luas tersebut tercatat naik 0,8%, sementara Nasdaq Composite juga mencapai rekor tertinggi intraday dan bertambah 0,8%. Dow Jones Industrial Average naik 338 poin, atau 0,7%, menurut laporan CNBC pada 5 Oktober.

Reli kembali dipimpin saham teknologi dan semikonduktor. Saham Marvell Technology melonjak 7%, sedangkan Nvidia naik sekitar 1% dan Broadcom bertambah 4%. Kenaikan saham-saham ini memberi dorongan bagi indeks utama.

S&P 500 didorong saham teknologi dan penurunan imbal hasil

Imbal hasil Treasury bergerak turun pada Selasa. Imbal hasil surat utang 10 tahun turun lebih dari 4 basis poin menjadi 5,262%, sedangkan imbal hasil obligasi 30 tahun turun lebih dari 3 basis poin menjadi 5,631%. Sehari sebelumnya, keduanya mencapai level yang tidak terlihat sejak 2002.

Advertisement

Harga minyak juga melemah. Brent diperdagangkan sekitar 1% lebih rendah, di kisaran $99 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate turun kurang dari 1% ke sekitar $88 per barel. Biaya energi dan imbal hasil obligasi menjadi perhatian pasar karena dapat memengaruhi tekanan inflasi dan keputusan suku bunga.

Namun, kenaikan pasar belum merata. Saham perusahaan berkapitalisasi kecil tertinggal; indeks Russell 2000 hanya bergerak sedikit di atas posisi datar, sementara Nasdaq dan S&P 500 mencetak rekor intraday. Perbedaan ini memperlihatkan kuatnya peran saham teknologi dalam mengangkat indeks utama.

Dampaknya terasa bagi investor yang mengikuti indeks pasar luas maupun dana yang bergerak searah dengannya: kenaikan beberapa saham besar dapat mendorong indeks naik, meski tidak semua perusahaan ikut menguat. Reli itu juga berlangsung ketika imbal hasil Treasury masih tinggi, sehingga perkembangan suku bunga dan inflasi tetap menjadi risiko bagi valuasi saham.

Lisa Shalett, kepala investasi Morgan Stanley Wealth Management, menulis kepada klien bahwa obligasi telah bergejolak selama enam pekan terakhir. Ia menyebut kemungkinan kerangka kebijakan baru Federal Reserve, pertumbuhan ekonomi, serta harga minyak tinggi ketika konflik di Timur Tengah berlanjut sebagai faktor yang memengaruhi pasar.

Meski volatilitas intraday meningkat, Shalett menulis bahwa periode enam pekan itu belum mencapai tingkat ekstrem yang memicu pasar bearish saham pada 2022. Penilaian tersebut muncul di tengah perhatian investor terhadap hubungan antara imbal hasil obligasi dan daya tahan reli saham.

Advertisement

Investor menunggu risalah Federal Reserve

Perhatian berikutnya tertuju pada risalah rapat Federal Reserve bulan September, yang dijadwalkan terbit Rabu. Dokumen itu dapat memberi petunjuk mengenai pertimbangan para pembuat kebijakan saat menaikkan suku bunga.

Untuk pasar, isi risalah dapat membantu menjelaskan bagaimana bank sentral menilai pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan tekanan dari harga energi. Investor akan membandingkan petunjuk tersebut dengan pergerakan imbal hasil obligasi, yang baru saja turun setelah mencatat level tinggi pada sesi sebelumnya.

CNBC melaporkan indeks S&P 500 naik 0,8% dalam perdagangan Selasa, setelah menyentuh rekor tertinggi intraday. Pergerakan selanjutnya akan berlangsung saat investor menelaah risalah Fed dan memantau apakah penurunan minyak serta imbal hasil Treasury berlanjut.

Source: cnbc.com

Advertisement
Advertisement