Nasdaq Hits Record Close as Treasury Yields Top 5.3%
Nasdaq mencetak rekor penutupan setelah naik sekitar 1%, sementara saham terkait AI ikut menguat. Namun, imbal hasil Treasury AS kembali menembus level…

Nasdaq mencetak rekor penutupan setelah menguat sekitar 1%, tetapi kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS kembali menekan perhatian investor. Stock market today bergerak dengan futures sedikit lebih tinggi pada Selasa, sementara pelaku pasar menunggu petunjuk kebijakan suku bunga dari Federal Reserve.
Futures S&P 500 naik 0,11%, Dow bertambah 76 poin atau 0,15%, dan Nasdaq-100 menguat 0,15%, menurut CNBC. Pergerakan itu menyusul sesi sebelumnya ketika S&P 500 naik 0,7% dan Dow bertambah sekitar 90 poin atau 0,2%.
Imbal hasil Treasury menjadi titik tegang. Yield obligasi 10 tahun kembali menyentuh level tertinggi sejak 2002, melampaui 5,3%, sedangkan yield 30 tahun sempat menembus 5,7%, level tertinggi dalam 24 tahun.
Nasdaq dan saham AI menguat
Kenaikan Nasdaq ditopang saham-saham yang terkait dengan perdagangan kecerdasan buatan. SpaceX melonjak lebih dari 7%, sementara Nvidia dan Tesla masing-masing naik lebih dari 2%. Meta Platforms dan Microsoft menguat lebih dari 1%.
Pergerakan itu memberi dukungan pada indeks teknologi, tetapi terjadi bersamaan dengan lonjakan yield yang dapat mengubah perhitungan investor terhadap saham. CNBC melaporkan bahwa yield tinggi dan volatilitas obligasi masih menjadi perhatian pasar, bahkan ketika indeks saham utama mencatat kenaikan.
Singkatnya, reli belum menghapus tekanan.
Di Asia, Nikkei Jepang naik 0,29% pada Selasa dan S&P/ASX 200 Australia bertambah 0,53%. Kospi Korea Selatan turun 0,23%, sementara Hang Seng Hong Kong naik 0,95%. Pasar China daratan tutup selama libur Golden Week.
Minyak juga memberi sinyal yang berubah. Harga minyak turun pada Senin, dengan kontrak Brent merosot 1,9% menjadi US$100,32 per barel dan West Texas Intermediate turun sekitar 1,8% menjadi US$89,43. Pada perdagangan Selasa, harga minyak sedikit lebih tinggi.
Investor menanti petunjuk The Fed
Investor menunggu risalah rapat Federal Reserve pada September yang dijadwalkan terbit Rabu. Dokumen itu dapat memberi gambaran mengenai langkah para pembuat kebijakan menaikkan suku bunga, menurut CNBC.
Lisa Shalett, kepala investasi Morgan Stanley Wealth Management, mengatakan pasar obligasi bergejolak selama enam pekan terakhir. Dalam catatan kepada klien, ia menyebut kerangka kebijakan baru The Fed yang berpotensi muncul, pertumbuhan ekonomi, serta tingginya harga minyak ketika konflik Timur Tengah berlanjut sebagai faktor yang memengaruhi obligasi.
“Nevertheless, while intraday implied volatility has risen, the six-week stretch has not reached the extremes that catalyzed the 2022 equity bear market,” tulis Shalett. Pernyataan itu menunjukkan bahwa volatilitas harian meningkat, tetapi rentang gejolak enam pekan belum menyamai kondisi ekstrem yang mendahului pasar bearish saham pada 2022.
Bagi investor, kombinasi Nasdaq yang mencetak rekor dan yield yang berada di level tinggi membuat arah pasar berikutnya bergantung pada bagaimana ekspektasi suku bunga bertemu dengan kinerja perusahaan. Kenaikan indeks belum menjawab apakah saham dapat mempertahankan momentum ketika biaya pinjaman dan imbal hasil obligasi tetap tinggi.
Untuk pasar global, pergerakan AS turut menjadi acuan saat bursa-bursa lain menghadapi sesi dengan sinyal beragam. Kenaikan saham teknologi datang bersamaan dengan penurunan Kospi, sementara pasar China daratan tidak bertransaksi karena libur. Perbedaan itu menegaskan bahwa reli di Wall Street belum diterjemahkan seragam ke seluruh kawasan.
Perhatian berikutnya tertuju pada risalah rapat September yang akan dirilis Rabu. Investor akan mencari petunjuk mengenai alasan kenaikan suku bunga dan bagaimana kebijakan itu dapat memengaruhi pasar obligasi serta saham.
Source: cnbc.com



