Selasa, 14 Juli 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Ayuningtyas Widari Ramdhaniar, Pejuang Ketahanan Pangan 

Ayuningtyas Widari Ramdhaniar, Pejuang Ketahanan Pangan 
Foto:   Jakarta, Journalarta.com - Lahir dan besar dari keluarga berkecukupan tak lantas membuat keseharian Ayuningtyas Widari Ramdhaniar bergelimang fasilitas…

 

Jakarta, Journalarta.com – Lahir dan besar dari keluarga berkecukupan tak lantas membuat keseharian Ayuningtyas Widari Ramdhaniar bergelimang fasilitas dan kemudahan. Sejak kecil justru ia dididik mandiri dan hidup prihatin. Namun pola asuh seperti itulah yang justru membentuk jiwa empati dan simpatinya terhadap lingkungan sekitar jadi begitu tinggi.

Mengesampingkan gelar kebangsawanan, ia begitu total dalam melayani masyarakat. Ia bahkan menginisiasi terbentuknya yayasan sosial yang mengkolaborasikan beberapa perusahaan untuk menyalurkan dana CSR mereka untuk kegiatan sosial yang berdampak pada masyarakat luas. Tujuannya hanya satu, mengumpulkan sebanyak-banyaknya pahala jariah lewat legacy mulia.

Dalam interaksi antar sesama manusia sehari-hari, sekurang-kurangnya ada tiga model yang berkembang di masyarakat. Pertama, keberadaan seseorang bisa membuat susah orang lain dan ketiadaannya membuat bahagia orang di sekitarnya. Kedua, kehadiran dan kepergian seseorang tidak terasa manfaatnya dan ketiga, keberadaan orang tersebut membuat bahagia dan kepergiannya dirindukan.

Model ketiga inilah yang ingin diraih Ayuningtyas Widari Ramdhaniar. Perempuan cantik yang akrab disapa Tyas ini ingin hidupnya bermanfaat bagi masyarakat luas. Jiwa empati dan simpati yang memang terasah sejak dini, secara tidak langsung membentuk pembawaan perempuan berdarah Sunda ini jadi mudah tersentuh dengan kesusahaan yang dialami orang lain.

Kini Ayuningtyas Widari Ramdhaniar menghabiskan waktunya untuk mengentaskan kemiskinan dengan memperjuangkan pemenuhan kebutuhan dasar manusia yakni ketahanan pangan.

Kenapa tertarik dengan isu pangan?

Karena faktanya, jutaan orang di seluruh dunia tidak mampu membeli makanan sehat, menempatkan mereka pada risiko tinggi kerawanan pangan dan kekurangan gizi. Tetapi mengakhiri kelaparan bukan hanya tentang pasokan. Namun, apakah makanan yang diproduksi hari ini cukup untuk memberi makan semua orang di Dunia? Seperti di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, angka prevalensi ketidakcukupan pangan (Prevalence of Undernourishment (PoU)) nasional tahun 2021 sebesar 8,49%. Angka tersebut naik 0,15 poin dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 8,34%. Angka PoU sebenarnya sudah menunjukkan adanya perbaikan pada 2018 dan 2019, tetapi meningkat kembali pada 2020 akibat efek pandemi.

Halaman:1234Semua Halaman

(FI)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda