Selasa, 14 Juli 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Ayuningtyas Widari Ramdhaniar, Pejuang Ketahanan Pangan 

Ayuningtyas Widari Ramdhaniar, Pejuang Ketahanan Pangan 
Foto:   Jakarta, Journalarta.com - Lahir dan besar dari keluarga berkecukupan tak lantas membuat keseharian Ayuningtyas Widari Ramdhaniar bergelimang fasilitas…

Belum optimalnya Pemberdayaan kelembagaan pangan; Belum optimalnya Pemanfaatan sumber daya pangan lokal; Belum optimalnya ekstensifikasi dan diversifikasi pangan masyarakat; Belum optimalnya Pengembangan sistem ketahanan pangan yang berkelanjutan (yang meliputi aspek input, ketersediaan, distribusi dan konsumsi).

Tindakan yang kita lakukan hari ini adalah masa depan kita, jadi kita harus menentukan apa yang akan diperbaiki, mulai darimana, dan dengan cara seperti apa yang akan menentukan semua yang perlu diperbaiki ini mampu untuk diperbaiki.

Dimana crucial isuenya? 

Persoalannya adalah akses dan ketersediaan pangan bergizi yang semakin terhambat oleh berbagai tantangan antara lain pandemi COVID-19, konflik, perubahan iklim, ketimpangan, kenaikan harga, dan ketegangan internasional.  Orang-orang di seluruh dunia menderita efek domino dari tantangan yang tidak mengenal batas.

Menurut lembaga PBB FAO bahwa di seluruh dunia, lebih dari 80 persen orang miskin ekstrim tinggal di daerah pedesaan dan banyak yang bergantung pada pertanian dan sumber daya alam untuk kehidupan mereka.  Mereka biasanya paling terpukul oleh bencana alam dan kesalahan oleh prilaku manusianya sendiri dan sering terpinggirkan karena jenis kelamin, asal etnis, atau status mereka.  Ini adalah perjuangan bagi mereka untuk mendapatkan akses ke pelatihan, keuangan, inovasi dan teknologi.

Pencapaian tujuan mengakhiri kelaparan ini membutuhkan akses yang lebih baik terhadap pangan dan ajakan budidaya pertanian secara luas berkelanjutan. Hal tersebut mencakup pengembangan produktifitas dan pemasukan petani kecil dengan mendorong kesamaan luas lahan, teknologi dan penjualan, sistem produksi pangan yang berkelanjutan, dan budi daya yang terus menerus.

Empat edisi terakhir The State of Food Security and Nutrition in the World (SOFI) mengungkapkan kenyataan yang merendahkan, yaitu Dunia secara umum belum mengalami kemajuan baik dalam memastikan akses ke pangan yang aman, bergizi dan cukup bagi semua orang sepanjang tahun (Target SDG 2.1), atau untuk memberantas segala bentuk kekurangan gizi (Target SDG 2.2). Konflik, variabilitas dan ekstrem iklim, serta perlambatan dan kemerosotan ekonomi adalah pendorong utama memperlambat kemajuan, terutama di tempat yang ketimpangannya tinggi.  Pandemi COVID-19 membuat jalur menuju SDG2 semakin terjal.

Jadi, jika dunia berada pada titik kritis, di mana posisi kita sekarang?  Dan apa yang dapat dilakukan untuk membantu kita membangun ke depan dengan lebih baik dan menempatkan kita di jalur yang tepat untuk mencapai Zero Hunger?

Dunia yang berkelanjutan adalah dunia di mana semua orang diperhitungkan. Pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat sipil serta individu perlu bekerja sama dalam solidaritas untuk memprioritaskan hak semua orang atas pangan, gizi, perdamaian, dan kesetaraan.  Memang, setiap dari kita, termasuk kaum muda, dapat bekerja menuju masa depan yang inklusif dan berkelanjutan, menunjukkan empati dan kebaikan yang lebih besar dalam tindakan kita.

Kita semua harus menjadi perubahan. Ayuningtyas Widari Ramdhaniar kelahiran tanah sunda ini yang dekat dengan Subang tepatnya di Kuningan sangat peduli bagaimana setiap orang di Indonesia memiliki ketahanan pangan yang baik untuk menuju sehidupan sehatnya. Untuk mencapainya ia mengajak seluruh pihak untuk berkolaborasi untuk memberikan akses yang lebih baik terhadap pangan dan ajakan budi daya pertanian secara luas berkelanjutan.(Red/*)

Halaman:1234Semua Halaman

(FI)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda