Seorang pemimpin yang tidak berkarakter akan bersikap panik tingkat “dewa” ketika menghadapi persoalan yang bisa merusak pencitraan diri. Sedangkan pemimpin yang memiliki kredibilitas dan integritas, ia tidak akan pernah panik ketika berhadapan dengan masalah. Sebab seorang pemimpin handal bak seorang nakhoda ditengah lautan, yang semakin kokoh dan lihai ketika dihempas gelombang, berhadapan dengan badai, namun tidak terlena ketika hembusan angin sepoi-sepoi dengan suasana alam yang meninabobokan diri.
Kecerdasan, kredibilitas dan ingeritas seorang pemimpin bisa dilihat ketika ia sedang mengalami surut citra diri, menghadapi banyak cacian dan kritikan. Ia akan menunjukkan kedewasaan dan kebijaksanaan serta tidak mencari “kambing hitam” dari persoalan yang dialami. Tapi kalau pemimpin picik, tak memiliki kredibilitas dan integritas, ia akan berusaha mencari dan melempar masalah kepada orang lain, cenderung menghindari masalah bukan menyelesaikan masalah, padahal dirinya sendiri yang membuat masalah. Mengirim orang menutup mulut orang-orang yang dianggap berseberangan, memberi ini dan itu kepada orang-orang yang dianggap kritis (apalagi nilainya cuma 5 sampao 10 jutaan, kecil bangeeet), kirim pasukan untuk intimidasi, rapat untuk usaha kriminalisasi, atur barisan atur strategi menghadapi orang-orang yang mengkritisi, yang kesemua itu adalah karakter pemimpin yang tidak akan pernah mampu memiliki solusi apalagi prestasi kecuali semakin membebankan diri dan menjadi beban bagi negeri. Beginilah kalau karakter Upin dan Ipin menjadi pemimpin. Hanya indah dalam cerita dan ceria dalam kamera, tapi tidak akan pernah ada dalam dunia nyata. Pemimpin seperti ini hanya sekedar hiburan untuk jadi tontonan bukan tuntunan.
Hiruk Pikuk Negeri
WALAUPUN sebagai pemeran utama dalam film animasi tersebut, dalam setiap episode pastinya “Upin Ipin” harus bercengkerama dengan yang lain, seperti Mei-Mei, Jarjit Singh, Ehsan, Fizi, Mail, Susanti, Kak Ros hingga Tok Dalang. Upin dan Ipin pastinya tidak terpisahkan sebab keduanya selalu ada dan bersama, rukun, guyub dan harmoni demi cerita menjadi menarik, apalagi sebagai film animasi anak-anak yang mendidik.
Hiruk pikuk negeri kita hari ini tidak melulu soal politik, tapi ternyata soal perilaku dan ketidakdewasaan pemimpin. Termasuk kekonyolan orang-orang dekat (penjilat), keluarga maupun orang-orang yang menceburkan diri dalam “kedunguan” posisi dan materi. Dalam canda, beberapa kali saya lontarkan bahwa keriuhan negeri hari ini karena tidak akurnya Upin dan Ipin. Upin sebagai pemimpin yang tidak memiliki integritas, tapi menghambakan diri pada popularitas dan sibuk mengisi tas, sedangkan Ipin rakyat jelata yang bertingkah rada-rada gila, ngomong seenaknya, isi kepalanya lumayan ada, lidahnya lancar dan ringan mengeluarkan kata-kata, namun tidak gila dalam posisi dan materi, sehingga Upin bingung mengatasi saudara kembarnya itu.
