Sebagai Ketua Ormas GMPBB, Ia meminta Walhi Babel jangan menyulitkan investasi di Bangka, apalagi membuat pernyataan yang menggiring opini buruk terhadap co-firing PLTU.
“Pahami dulu co-firing itu apa, biomassa itu apa dan berikan edukasi ke publik dan jangan membenturkan program yang sudah dicanangkan pemerintah dengan masyarakat agar suhu kamtibmas di Babel ini tetap kondusif,” tandasnya.
” Jangan menggiring opini buruk tentang program pemerintah yang baik, berikan edukasi kepada masyarakat dan jangan bikin gaduh,” imbuhnya.
Sementara itu, Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kepulauan Bangka Belitung, Jessix Amundian saat dikonfirmasi awak media melalui pesan whatssapp pada Kamis malam (20/7/2023) membenarkan dirinya memberikan pernyataan seperti itu dilaman Mongabay.
Saat ditanyakan maksud solusi palsu dari transisi energi bersih di Indonesia dalam pernyataanya pada paragraf ke delapan dilaman mongabay tersebut seperti apa, Jessix mengatakan keberadaan co-firing PLTU Air Anyir tidak pantas menggunakan label Green Energy.
”Pertama, ya benar pernyataan itu di mongabay. Kedua, keberadaan co-firing PLTU Air Anyir tidak pantas menggunakan label green energy. Sebab, aktivitas di hulunya tetap melepaskan karbon dan metana, dari kegiatan penambangan batubara dan penebangan kayu. Ini solusi palsu dari transisi energi bersih di Indonesia,” ujarnya.
Lebih lanjut saat ditanya bukankah di Babel tidak ada Batu Bara?, Jessix menuturkan “Pelepasan karbon dan metana berdampak pada perubahaan iklim. Dampaknya global, termasuk kep babel. Makanya Indonesia berkomitmen mengembangkan energi bersih. Bebas dari energi fosil. Jika masih menggunakan energi fosil, artinya bukan energi bersih, masih kotor di hulu,”.
Kemudian saat ditanyakan apa kaitannya dengan Hutan Tanaman Industri (HTI), sedangkan berdasarkan informasi yang diperoleh media bahwa PT. Mentari Biru Energi dalam waktu dekat akan melakukan penanam dibeberapa lokasi yang nantinya akan dijadikan lahan produktif bekerja sama dengan desa-desa yang sudah menyiapkan lahan-lahan kritis untuk dihijaukan kembali dengan melibatkan unsur terkait.
Direktur Walhi Babel ini mengatakan “Kaitan dengan HTI, asumsi kami, penanaman itu membutuhkan waktu minimal 5 tahun baru dapat dipanen. Penanaman bahan baku itu disebut HTI (hutan tanaman industri). Selama lima tahun, menunggu kayu dipanen, yang memungkinkan kayu dari perusahaan HTI,”.
Ia menambahkan, “Kebutuhan kayu setahun 15.000 ton dibutuhkan panen kayu di luasan ratusan hektare. Lalu, pohon yang ditanam kemudian dipanen juga terjadi pelepasan karbon. Pelepasan karbon terjadi saat penebangan dan pembersihan lahan. Penghijauan itu adalah lahan kritis ditanam, lalu tidak ditebang. Dibiarkan jadi hutan kembali,”.
Diketahui, Belum lama ini Bupati Bangka H. Mulkan SH,MH dan OPD terkait melakukan peletakan batu pertama pembangunan pabrik wood chip PT. Mentari Biru Energi yang merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang perbaikan lingkungan hidup. Salah satu kegiatan utamanya adalah energi terbarukan dan pengolahan limbah untuk mendukung program pemerintah yakni co-firing untuk pembangkit listrik PLN PLTU Bangka.
Tepatnya pada Senin, 10 Juli 2023, Peletakan batu pertama pembangunan pabrik yang akan memproduksi Wood Pallet dan Wood Chip ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Daerah yang langsung disampaikan oleh Bupati Bangka H.Mulkan SH,MH dan juga Ketua DPRD Kabupaten Bangka sebagai Wakil rakyat di pemerintahan.
Dalam Sambutannya Bupati Bangka mendukung penuh pembangunan pabrik PT. Mentari Biru Energi dan akan memberikan kemudahan dalam regulasi, begitu juga dengan Ketua DPRD Bangka Iskandar SIP.(*)
