Jakarta, Journalarta.com – Pemerintah saat ini mewajibkan pelaksanaan hilirisasi sumberdaya mineral termasuk timah untuk mendorong pembangunan ekosistem industri di dalam negeri yang terintegrasi untuk mendukung ekonomi nasional.
Percepatan hilirisasi mineral secara terintegrasi antara tambang dan smelter merupakan salah satu upaya dalam mendukung transisi energi. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, sumber daya alam (SDA) Indonesia yang melimpah menjadi peluncur untuk masa depan.
“Nah kekuatan berikutnya bagi peluncur Indonesia ke depan adalah sumber daya alam yang melimpah,”kata Airlangga, Jakarta, Kamis (25/7/2023).
Pengelolaan mineral yang dikuasai oleh negara untuk memberikan nilai tambah (Value Added) secara nyata bagi perekonomian nasional dalam usaha mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara berkeadilan.
Dalam Rencana Pengelolaan Mineral dan Batubara (RPMBN) 2022-2027 yang dikeluarkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), percepatan peningkatan nilai tambah salah satunya timah perlu dilakukan koordinasi, sinkronisasi kebijakan dan data antara Kementerian/Lembaga.
“Timah juga peringkat pertama dengan 800 ribu metrik ton atau 0,8 juta metrik ton. Nah Indonesia ini memanfaatkan hilirisasi menjadi kunci, karena hilirisasi adalah manufacturing value added mulai dari hulu sampai dengan ke hilir,” jelas Airlangga.
“Kemudian pemerintah terus mendorong agar kita berani meningkatkan hilirisasi dari komoditas unggulan, dan kita juga terus mendorong bahwa pengolahan seluruhnya kita lakukan didalam negeri,” tambahnya.
Diketahui, PT Timah Tbk terus melakukan optimalisasi hilirisasi melalui anak perusahaannya PT Timah Industri yang sudah terbentuk sejak tahun 1998 dengan memproduksi tin solder dan tin chemical di Kota Cilegon, Provinsi Banten.
Sekretaris Perusahaan PT Timah Abdullah Umar produsen, kenyataanya jumlah produksi timah solder jauh lebih besar.
“Saat ini PT Timah memiliki anak perusahaan yang memang melakukan hilirisasi produk logam timah, namun daya serap dari anak perusahaan itu baru lima persen dari total produksi PT Timah, kenapa lima persen, karena saat ini pangsa pasar dari produk hilir tak sebesar pangsa dari produk timah,” jelas Abdullah, Jakarta, dikutip, Senin (24/7/2023).
