
Pada kesempatan itu, Ketua DPW PKB prov. Babel, M. Tanwin dalam sambutannya berharap agar caleg PKB dapat kursi di pemilu 2024 mendatang.
“PKB tidak pernah kalah, PKB selalu dalam pemerintahan. Yusril hari inipun mengatakan kepada pak Prabowo jangan sampai meninggalkan Muhaimin kalau mau menang,” katanya.
Taswin bersyukur karena diinstruksikan dari DPP PKB pada hari ini secara serentak mengadakan tasyakuran dengan melakukan santunan kepada anak yatim piatu seluruh indonesia.
”Kita satukan tekad, satukan semangat untuk meraih kursi 2024 karena kemenangan didepan mata,” tuturnya.
Dia juga mengajak para kader PKB untuk menggelorakan semangat untuk mendapatkan suara dan simpatisan dari masyarakat.
”Insya Allah PKB kota Pangkalpinang akan meraih satu fraksi. Hari ini kita harus menggeser posisi PPP. Karena bagaimanapun juga anak kandung dari Nahdatul Ulama adalah PKB. Sementara kultur di Bangka Belitung itu adalah NU,” tandasnya.

Sementara itu, Ustad Habibi dalam Tausiyahnya menyampaikan bahwa bagian dari NU adalah PKB. Ia juga mengutip satu kalimat atau syair dari salah seorang ulama nusantara yang sangat terkenal yakni Syech Ihsan Jampes dengan bukunya ”Irshaad al-Ikhwaan fi Bayaan ahkaam Shurb al-Qahwah wa al-Dukhaan” yang berbicara tentang rokok dan kopi.
”Seyogyanya kalau kita habis makan itu merokoklah dengan rokok Djarum, Sukun atau Sampoerna. Apabila ingin bertambah nikmat merokoknya maka hendaklah rokok itu diusap pinggirnya dengan ampas kopi,” ujarnya mengutip terjemahan dari isi buku tersebut.
”Jadi memang orangtua kita yang mengamalkan rokok yang dioleskan dengan ampas kopi memang ada dalilnya. Dalil kita merokok dalam NU itu ada, jadi silahkan bapak-bapak yang pada malam ini pengen merokok silahkan, dalilnya tadi sudah diberikan silahkan diamalkan. Secara ijazahnya sudah jelas. Nah itulah enaknya kita didalam NU dan PKB itu semua pasti ada sumber hukumnya, ada sumber dalilnya,” tambahnya.
Lebih lanjut disampaikan Ustadz Habibi, Jika ingin PKB dijadikan basis dan sumber hukum untuk persatuan, Ia juga menyampaikan syairnya yang artinya Sesuatu itu tidak akan sempurna, tidak akan sampai ke cita cita yang diinginkan jikalau satu orang ingin membangun tetapi empat sampai seratusnya ingin menghancurkan.
”Artinya dari kalimat ini kita refensikan dengan bangsa kita dan negara kita, hari ini khususnya pemerintah kita diwilayah Bangka Belitung, teman teman dari PKB yang notaben dari tradisi PKB itu sama, tetap masih menggunakan Dewan Syuro kalau dalam tradisi NU Rois Suriah,” ucapnya.
Acara tersebut ditutup dengan doa bersama yang dibacakan oleh Wakil Ketua Dewan Suro PKB Ustadz Komarudin kemudian dilanjutkan dengan pemberian santunan kepada anak yatim yang hadir.(Red)
