Jumat, 10 Juli 2026 WIB
BREAKING
OPINI

Menulis Itu Ibarat Mengukir Batu Nisan Untuk Diri Sendiri

Menulis Itu Ibarat Mengukir Batu Nisan Untuk Diri Sendiri
Jacob Ereste

Oleh : Jacob Ereste 

 

Journalarta.com – Satu diantara sekian banyak cara membangun dan merawat akal sehat adalah banyak menulis. Karena dengan banyak menulis, artinya pasti akan banyak melihat, banyak mendengar dan banyak mengkaji dan merenungkan buah pikiran, ide, gagasan serta narasi penyampaian agar dapat dicerna sebaik mungkin oleh orang lain.

Setelah menulis, tentu saja yang ideal bisa dibagikan kepada banyak orang – tanpa haris dibatasi – usia, latar belakang apa saja hingga kaum intelektual, tokoh agam, budayawan dan seniman sampai politisi, pengusaha dan makelar, termasuk bazzer.

Menurut seorang kawan Jurnalis, hanya dengan cara seperti itu, muatan nilai dari tulisan yang dapat tersajikan itu bisa dikoreksi oleh banyak pihak untuk kemudian mau dan bisa mereka serap pokok dari ide serta gagasan atau sekedar pandangan dari sang penulis yang ingin berkontribusi juga untuk orang banyak.

Karena itu menjadi sangat relevan untuk memanfaatkan media sosial yang berbasis internet menjadi sarana utama yang terhandal untuk menuangkan ide, gagasan atau pandangan yang dimiliki atas dasar ilmu dan pengetahuan yang kita miliki — yang sangat mungkin belum atau tidak dimiliki oleh orang lain.

Maka itu, dengan semakin banyak menulis – jadi semacam dalilnya sunnatullah – pasti orang yang bersangkutan akan banyak membaca – seperti ilmu dan pengetahuan pertama yang diisyaratkan oleh Tuhan kepada Nabi Muhammad – iqra. Meskipun orang banyak tahu bahwa Nabi yang telah menjadi panutan jutaan umat manusia itu sampai hari ini tidak bisa membaca dan juga tidak bisa menulis. Tapi itu semua hanya dalam arti yang biasa.

Namun sebenarnya, Nabi Besar Muhammad SAW itu memiliki kemampuan untuk membaca yang tidak tertulis, hal-hal yang tidal terlihat. Bahkan pars Nabi itu mempunyai kemampuan untuk mendengar yang tidak ada suaranya. Bahkan mampu untuk merasakan sesuatu yang tidak mampu dirasakan oleh orang lain.

Agaknya, dalam konteks pengertian dan pemahaman serupa inilah dimensi spiritual yang selama ini masih acap diketahui sebagai sesuatu yang mistik, tidak masuk akal, bisa dicerna untuk diyakini sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Halaman:12Semua Halaman

(FI)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda