Selasa, 26 Mei 2026 WIB
BREAKING
POLITIK

Mengapa Tim Hukum Kabaranahan Datangi Rumah Jokowi?

Tim hukum mantan Kepala Baranahan mendatangi kediaman Joko Widodo di Solo terkait kasus satelit orbit Kementerian Pertahanan
Foto: Tribunnews

Tim kuasa hukum mantan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kabaranahan) mendatangi kediaman Joko Widodo di Solo, Jawa Tengah, Kamis (26 Mei 2025). Kunjungan mendadak ini terkait kasus satelit orbit Kementerian Pertahanan (Kemhan) yang kini tengah bergulir di ranah hukum.

Kedatangan tim hukum tersebut bukan tanpa alasan. Mereka menganggap Jokowi selaku Presiden pada periode kejadian memiliki tanggung jawab dalam instruksi penyelamatan slot orbit 123 derajat Bujur Timur yang disampaikan dalam Rapat Terbatas (Ratas) Kabinet.

Latar Belakang Kasus Satelit Orbit Kemhan

Kasus ini bermula dari dugaan penyimpangan dalam proyek pengadaan satelit pertahanan yang melibatkan alokasi slot orbit strategis di posisi 123 derajat Bujur Timur. Slot orbit tersebut merupakan aset berharga bagi kedaulatan komunikasi satelit Indonesia di kawasan Asia Pasifik.

Dalam perkembangannya, mantan Kabaranahan diduga terlibat dalam pengambilan keputusan terkait proyek tersebut. Tim hukumnya kini berupaya mengumpulkan bukti bahwa klien mereka bertindak berdasarkan arahan atau kebijakan pemerintah yang sah pada masa itu.

Sumber dari tim kuasa hukum mengungkapkan bahwa kunjungan ke rumah Jokowi dimaksudkan untuk meminta klarifikasi dan kesaksian terkait instruksi yang diberikan dalam forum rapat kabinet. Mereka berharap mantan presiden dapat memberikan keterangan yang membantu memperjelas posisi klien mereka dalam kasus ini.

Implikasi Politik dan Hukum

Langkah tim hukum ini menandakan bahwa kasus satelit orbit Kemhan tidak hanya melibatkan pejabat teknis, tetapi juga menyeret pengambil kebijakan tertinggi pada masa itu. Hal ini berpotensi membuka babak baru dalam pengungkapan kasus yang telah menarik perhatian publik.

Para pengamat hukum menilai bahwa upaya melibatkan mantan presiden sebagai saksi merupakan strategi pembelaan yang wajar dalam kasus yang melibatkan kebijakan negara. Namun demikian, prosesnya harus tetap mengikuti koridor hukum yang berlaku.

Kasus ini juga mengingatkan pada pentingnya dokumentasi akademik dalam setiap kebijakan publik, termasuk di tingkat pemerintahan pusat, untuk menghindari multitafsir di kemudian hari.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Jokowi maupun pihak keluarga terkait pertemuan tersebut. Publik menanti perkembangan selanjutnya dari kasus yang melibatkan aset strategis negara ini.

Transparansi dalam penanganan kasus ini menjadi krusial, mengingat dampaknya tidak hanya pada reputasi pejabat yang terlibat, tetapi juga kepercayaan publik terhadap tata kelola pemerintahan yang baik.

Sumber: Tribunnews (baca selengkapnya)

Sumber: Tribunnews (baca selengkapnya)

— fds
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

📝 Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Komentar akan ditinjau sebelum tampil.