Selasa, 14 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

The Fed Peringatkan 3 Risiko Ekonomi dari Selat Hormuz

Kapal tanker minyak melintas di Selat Hormuz jalur strategis energi global
Kapal tanker minyak melintas di Selat Hormuz jalur strategis energi global. (Ilustrasi: AI)

“Gangguan pasokan energi dari kawasan Teluk Persia dapat mendorong harga bensin di Amerika melampaui $6 per galon,” ungkap salah satu pejabat The Fed dalam briefing tertutup yang kemudian bocor ke media. Angka tersebut akan menjadi rekor tertinggi dalam sejarah AS, melampaui puncak tahun 2022 ketika harga mencapai $5 per galon akibat invasi Rusia ke Ukraina.

The Fed juga mengindikasikan bahwa mereka mungkin perlu menunda rencana penurunan suku bunga acuan jika harga energi terus melonjak. Kebijakan moneter ketat yang telah diterapkan sejak 2022 untuk memerangi inflasi dapat diperpanjang, yang berarti biaya pinjaman untuk konsumen dan bisnis akan tetap tinggi lebih lama dari yang diharapkan.

Bank sentral AS meminta negara-negara konsumen untuk mempertimbangkan pengurangan konsumsi minyak dan mempercepat transisi ke energi alternatif. Namun, permintaan ini dianggap tidak realistis dalam jangka pendek mengingat ketergantungan ekonomi modern terhadap bahan bakar fosil masih sangat tinggi, terutama untuk sektor transportasi dan industri.

Dampak terhadap Ekonomi Global dan Regional

Lonjakan harga minyak akibat ketegangan Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada Amerika Serikat. Negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah menghadapi risiko ekonomi yang lebih besar. Tiongkok, importir minyak terbesar dunia, mendapat lebih dari 40% pasokannya dari kawasan Teluk Persia. Gangguan pasokan dapat memperlambat pemulihan ekonomi Tiongkok yang sudah menghadapi tantangan dari sektor properti dan konsumsi domestik yang lemah.

Jepang dan Korea Selatan, yang hampir sepenuhnya bergantung pada impor energi, juga berada dalam posisi rentan. Kedua negara telah mulai mengaktifkan cadangan minyak strategis mereka sebagai antisipasi. India, yang ekonominya tumbuh pesat dan membutuhkan energi dalam jumlah besar, menghadapi tekanan ganda dari naiknya biaya impor dan melemahnya nilai tukar rupee terhadap dolar AS.

Di Eropa, meskipun ketergantungan langsung terhadap minyak Timur Tengah lebih rendah dibanding Asia, dampak tidak langsung tetap signifikan. Harga energi yang lebih tinggi secara global akan meningkatkan biaya produksi dan transportasi, mendorong inflasi yang sudah menjadi masalah kronis di zona euro. Bank Sentral Eropa juga menghadapi dilema serupa dengan The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneter.

Halaman:123Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda