Senin, 6 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

DPR AS Resmi Paksa Trump Tarik Pasukan dari Iran

Gedung Kongres AS saat sesi pembahasan resolusi perang Iran
Foto: Daniel Torok / Wikimedia Commons (Public domain)

Dalam langkah politik langka yang menantang kewenangan eksekutif, Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat telah menyetujui resolusi yang memerintahkan penghentian konflik militer dengan Iran dan penarikan pasukan AS dari wilayah Timur Tengah. Keputusan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran Kongres terhadap eskalasi ketegangan yang telah berlangsung sejak awal 2026, dan menandai gesekan signifikan antara legislatif dan Presiden Donald Trump dalam kebijakan luar negeri AS.

Resolusi yang disetujui DPR ini merupakan instrumen legislatif yang mengikat secara konstitusional, memaksa administrasi Trump untuk meninjau kembali kehadiran militer Amerika di kawasan Teluk Persia dan sekitarnya. Keputusan ini lahir dari frustrasi parlemen terhadap konflik yang telah menelan biaya miliaran dolar dan menimbulkan risiko eskalasi perang regional yang lebih luas.

Langkah Kongres ini menjadi sinyal kuat bahwa bahkan sesama partai Republik Trump mulai mempertanyakan strategi militer pemerintah terhadap Iran. Dalam sistem checks and balances Amerika, kewenangan perang memang dibagi antara presiden sebagai panglima tertinggi dan Kongres yang memegang kekuasaan untuk mendeklarasikan perang serta mengalokasikan anggaran pertahanan.

Latar Belakang Konflik AS-Iran yang Memanas

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran telah meningkat tajam sejak awal 2026, dengan serangkaian insiden militer yang membawa kedua negara ke ambang perang terbuka. Konflik ini berakar pada kebijakan Washington yang terus menekan Tehran melalui sanksi ekonomi maksimal dan kehadiran militer yang diperluas di kawasan Timur Tengah.

Beberapa hari sebelum resolusi DPR ini disetujui, Iran mengklaim telah menghancurkan 20 fasilitas militer Amerika Serikat dalam serangan balasan sejak konflik terbaru dimulai. Klaim ini, meski belum sepenuhnya dikonfirmasi secara independen, mencerminkan tingkat eskalasi yang mengkhawatirkan di kawasan Teluk Persia—salah satu jalur pelayaran minyak paling strategis di dunia.

Administrasi Trump telah mengerahkan ribuan pasukan tambahan, kapal perang, dan aset militer canggih ke wilayah tersebut sebagai bagian dari strategi tekanan maksimal. Namun, strategi ini justru memicu respons agresif dari Tehran dan sekutu-sekutunya di kawasan, termasuk kelompok-kelompok milisi di Irak, Suriah, dan Yaman.

Halaman:1234Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda