Jumat, 29 Mei 2026 WIB
BREAKING
💡 SPACE TERSEDIA
Ekspos Brand Anda ke Audience JournalArta
Spot iklan strategis, dilihat oleh ribuan pengunjung tiap hari.
📧 Hubungi Kami →
BERITA

Tokoh Nasional Melayat ke Rumah Duka Maria Oetama

Suasana rumah duka Maria Bernadeth Latifah Oetama di Jakarta
Suasana rumah duka Maria Bernadeth Latifah Oetama di Jakarta

Rumah duka di Jalan Sriwijaya Raya, Jakarta Selatan, menjadi tempat berkumpulnya sejumlah tokoh nasional pada hari ini. Maria Bernadeth Latifah Oetama, istri almarhum Jakob Oetama yang dikenal sebagai pendiri Kompas Gramedia, berpulang meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan jaringan luas yang pernah bersentuhan dengan warisan media terbesar Indonesia.

Kepala Badan Komunikasi Kepresidenan (Bakom) Muhammad Qodari dan mantan Menteri BUMN sekaligus mantan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan terlihat hadir memberikan penghormatan terakhir. Kedatangan mereka mencerminkan hubungan erat antara keluarga Oetama dengan lingkaran kekuasaan dan dunia bisnis nasional yang telah terjalin selama puluhan tahun.

Siapa Maria Bernadeth Latifah Oetama

Maria Bernadeth Latifah Oetama adalah sosok di balik kesuksesan Jakob Oetama, pendiri sekaligus tokoh sentral Kompas Gramedia Group. Jakob Oetama sendiri wafat pada Juni 2020 di usia 88 tahun, meninggalkan legacy sebagai salah satu tokoh pers paling berpengaruh di Indonesia.

💡 SPACE TERSEDIA
Ekspos Brand Anda ke Audience JournalArta
Spot iklan strategis, dilihat oleh ribuan pengunjung tiap hari.
📧 Hubungi Kami →

Sebagai istri, Maria menjadi pendamping Jakob dalam membangun kerajaan media yang dimulai dari penerbitan harian Kompas pada 1965. Kini, Kompas Gramedia berkembang menjadi konglomerat media dan pendidikan dengan jangkauan luas, mulai dari koran, majalah, penerbit buku, percetakan, hingga jaringan toko buku Gramedia yang tersebar di seluruh Indonesia.

Keluarga Oetama dikenal menjaga privasi, namun pengaruh mereka terhadap perkembangan jurnalisme Indonesia tidak terbantahkan. Kompas menjadi salah satu koran referensi nasional dan simbol independensi pers di tengah dinamika politik Indonesia.

Kepala Bakom dan Mantan Menteri Berdatangan

Muhammad Qodari, yang kini menjabat sebagai Kepala Bakom RI di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, hadir sebagai representasi hubungan pemerintah dengan keluarga Oetama. Qodari sebelumnya dikenal sebagai pendiri lembaga survei Indo Barometer dan memiliki rekam jejak panjang dalam analisis politik Indonesia.

Sementara Ignasius Jonan, teknokrat senior yang pernah memimpin PT Kereta Api Indonesia sebelum menjabat sebagai menteri di era Presiden Joko Widodo, juga turut melayat. Kehadiran Jonan menunjukkan jaringan luas keluarga Oetama yang melampaui dunia media, menyentuh sektor transportasi, energi, hingga BUMN.

Kedatangan tokoh-tokoh publik ini bukan sekadar formalitas, tetapi mencerminkan penghargaan terhadap kontribusi keluarga Oetama dalam pembangunan ekosistem informasi dan literasi nasional. Kompas Gramedia sejak awal menjadi mitra penting dalam diseminasi kebijakan publik dan edukasi masyarakat.

Warisan Jakob Oetama dan Kompas Gramedia

Jakob Oetama dan istrinya Maria membangun Kompas Gramedia dari nol di tengah situasi politik yang tidak mudah. Ketika Kompas pertama kali terbit pada 28 Juni 1965, Indonesia tengah berada dalam periode yang penuh gejolak menjelang peristiwa 1965.

Di bawah kepemimpinan Jakob, Kompas bertahan dan berkembang menjadi koran dengan oplah terbesar di Indonesia. Prinsip jurnalisme independen, humanis, dan plural yang dipegang Jakob menjadi pedoman hingga kini. Kompas tidak hanya menjadi media berita, tetapi juga ruang diskursus publik dan edukasi politik masyarakat.

Setelah Jakob wafat, kepemimpinan Kompas Gramedia dipegang oleh generasi penerus keluarga Oetama. Namun, spirit pendiri tetap dijaga, termasuk komitmen terhadap kualitas konten dan tanggung jawab sosial media.

Maria Oetama, sebagai pendamping setia, berperan dalam menjaga keutuhan keluarga dan nilai-nilai yang dipegang Jakob. Kepergiannya menandai berakhirnya satu era dalam sejarah keluarga yang telah memberikan kontribusi besar bagi jurnalisme Indonesia.

Penghormatan Publik dan Relevansi Keluarga Oetama

Kedatangan tokoh-tokoh nasional ke rumah duka Maria Oetama menggambarkan posisi keluarga ini dalam ekosistem publik Indonesia. Mereka bukan hanya pebisnis media, tetapi juga bagian dari narasi besar pembangunan Indonesia, khususnya dalam kebebasan pers dan literasi.

Kompas Gramedia tetap relevan di era digital. Meski menghadapi tantangan disruption teknologi, grup ini terus bertransformasi dengan mengembangkan platform digital, e-commerce buku, dan diversifikasi konten multimedia.

Kehadiran pejabat pemerintah seperti Qodari dan teknokrat seperti Jonan juga menunjukkan bahwa relasi antara media, pemerintah, dan sektor swasta tetap penting dalam menjaga ekosistem informasi yang sehat. Di tengah polarisasi politik dan disinformasi, warisan Jakob dan Maria Oetama berupa jurnalisme berkualitas menjadi semakin bernilai.

Rumah duka di Jalan Sriwijaya Raya menjadi saksi bisu penghormatan terakhir kepada sosok yang turut membentuk lanskap media Indonesia. Kepergian Maria Oetama menutup satu bab sejarah, namun warisan yang ditinggalkan bersama Jakob akan terus hidup dalam setiap berita, buku, dan literasi yang dihasilkan Kompas Gramedia.

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram
📲 CHANNEL TELEGRAM
Follow @journalartanews di Telegram
Dapatkan notifikasi berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda.
💬 Join Channel →

📝 Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Komentar akan ditinjau sebelum tampil.