Senin, 1 Juni 2026 WIB
BREAKING
✨ AVAILABLE NOW
Promo Brand Anda di Sini
Tarif terjangkau, jangkauan maksimal. Tarif khusus untuk advertiser pertama.
💬 Konsultasi Gratis →
BERITA

Festival Waisak Megah di Bundaran HI: 5 Hari Cahaya Damai Jakarta

Festival Waisak Megah di Bundaran HI: 5 Hari Cahaya Damai Jakarta

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menghadirkan wajah baru perayaan keagamaan di ibu kota melalui acara “Illumination of Jakarta, Glow of Peace” yang digelar di Bundaran Hotel Indonesia (HI) sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2026. Festival lima hari ini bukan sekadar peringatan Hari Raya Waisak 2570 Buddhist Era, tetapi juga upaya strategis pemerintah daerah untuk memproyeksikan Jakarta sebagai kota metropolitan yang terbuka, toleran, dan inklusif di tengah keberagaman.

Acara yang melibatkan kolaborasi lintas sektor antara Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) DKI Jakarta, Persatuan Umat Buddha Indonesia (PERMABUDHI), dan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) ini menggabungkan dimensi spiritual, budaya, dan ekonomi kreatif dalam satu rangkaian kegiatan publik. Bundaran HI—landmark ikonik Jakarta—dipilih sebagai venue untuk memaksimalkan visibilitas dan aksesibilitas acara kepada publik luas, termasuk wisatawan domestik dan mancanegara.

Strategi Branding Jakarta sebagai Kota Terbuka

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta Andhika Permata menegaskan bahwa perayaan Waisak tahun ini menjadi bagian penting dari upaya pemerintah kota dalam memperlihatkan wajah Jakarta yang terbuka, damai, dan penuh semangat kebersamaan. “Melalui kolaborasi lintas sektor, kami berharap kegiatan ini dapat memberikan pengalaman budaya dan spiritual yang berkesan bagi masyarakat serta mendukung pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Jakarta,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu.

✨ AVAILABLE NOW
Promo Brand Anda di Sini
Tarif terjangkau, jangkauan maksimal. Tarif khusus untuk advertiser pertama.
💬 Konsultasi Gratis →

Strategi ini sejalan dengan tren global di mana kota-kota besar dunia semakin menekankan toleransi dan keberagaman sebagai aset soft power dan daya tarik destinasi. Jakarta, dengan populasi mayoritas Muslim namun kaya akan keragaman etnis dan agama, berupaya menonjolkan narasi inklusivitas sebagai pembeda kompetitif dalam peta pariwisata Asia Tenggara.

Pemilihan Bundaran HI sebagai lokasi juga strategis dari sisi simbolisme. Area tersebut merupakan ruang publik paling ikonik Jakarta dan telah menjadi saksi berbagai peristiwa nasional penting, dari perayaan hingga demonstrasi sipil. Menggunakan ruang ini untuk perayaan keagamaan minoritas mengirimkan pesan kuat tentang pengakuan negara terhadap keberagaman.

Rangkaian Kegiatan dan Instalasi Seni Cahaya

Acara Illumination of Jakarta mencakup beragam kegiatan yang dirancang untuk melibatkan tidak hanya umat Buddha, tetapi juga komunitas lintas agama, pelaku ekonomi kreatif, serta masyarakat umum. Rangkaian kegiatan meliputi doa dan renungan bersama, pertunjukan seni budaya, instalasi cahaya artistik, dan atraksi budaya yang dikurasi khusus untuk mencerminkan nilai-nilai universal perdamaian dan harmoni.

Kepala Bidang Pemasaran dan Atraksi Disparekraf DKI Jakarta Lucky Wulandari menjelaskan bahwa instalasi seni dan pencahayaan di Bundaran HI dirancang tidak hanya untuk menarik wisatawan, tetapi juga menyampaikan pesan damai yang menjadi inti dari ajaran Buddha. Instalasi cahaya—medium seni yang semakin populer di berbagai festival global—digunakan sebagai alat komunikasi visual untuk narasi toleransi dan kebersamaan.

Instalasi ini juga diharapkan dapat menjadi konten visual yang menarik untuk media sosial, mengingat generasi muda dan wisatawan milenial cenderung mencari pengalaman instagrammable. Dari perspektif ekonomi kreatif, festival semacam ini membuka peluang bagi seniman lokal, vendor kuliner, dan pelaku UMKM untuk berpartisipasi dan mendapat manfaat ekonomi langsung.

Kolaborasi Lintas Organisasi Keagamaan

Pelaksanaan acara ini melibatkan dua organisasi utama umat Buddha di Indonesia: PERMABUDHI dan WALUBI. Kedua organisasi ini memiliki peran penting dalam mengawal aspek spiritual dan ritualitas acara, memastikan bahwa esensi keagamaan Waisak tetap terjaga meskipun acara dikemas dalam format festival publik yang lebih inklusif.

Kolaborasi dengan organisasi keagamaan resmi juga menunjukkan pendekatan pemerintah daerah yang hati-hati dalam mengelola kegiatan keagamaan di ruang publik. Hal ini penting untuk menghindari potensi konflik atau mispersepsi di masyarakat, terutama mengingat sensitivitas isu agama di Indonesia.

Keterlibatan komunitas lintas agama dalam acara ini juga menjadi poin penting. Ini bukan hanya acara untuk umat Buddha, tetapi ruang bersama di mana berbagai kelompok masyarakat dapat hadir, belajar, dan merayakan keberagaman. Pendekatan ini sejalan dengan konsep “shared public space” yang kini menjadi fokus perencanaan kota modern di berbagai belahan dunia.

Dampak Ekonomi dan Pariwisata Jakarta

Dari perspektif ekonomi, acara semacam ini diharapkan dapat memberikan dampak ganda: menarik kunjungan wisatawan sekaligus menggerakkan sektor ekonomi kreatif lokal. Jakarta, yang masih berupaya bangkit dari tekanan ekonomi dan persaingan dengan destinasi regional lain, membutuhkan event-event berkualitas yang dapat meningkatkan citra dan kunjungan wisatawan.

Festival Waisak di Bundaran HI juga dapat menjadi model replikasi untuk perayaan keagamaan lain, menciptakan kalender event tahunan yang konsisten dan dapat diandalkan sebagai aset pariwisata kota. Diversifikasi event berbasis keagamaan dan budaya ini penting untuk mengurangi ketergantungan Jakarta pada segmen wisata bisnis dan MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) semata.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga berharap masyarakat dapat terus menjaga kebersamaan dan keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga Jakarta dapat menjadi ruang bersama yang aman, nyaman, dan ramah bagi semua. Harapan ini bukan hanya retorika, tetapi kebutuhan nyata mengingat Jakarta sebagai ibu kota negara sering menjadi barometer situasi sosial-politik nasional.

Tantangan dan Harapan ke Depan

Meski inisiatif ini mendapat sambutan positif, tantangan tetap ada. Pengelolaan ruang publik untuk acara keagamaan harus dilakukan secara adil dan proporsional, memastikan semua kelompok merasa diakomodasi tanpa ada yang merasa diprioritaskan atau dikesampingkan. Pemerintah kota perlu konsisten dalam memberikan akses ruang publik untuk berbagai komunitas.

Selain itu, keberlanjutan program semacam ini juga bergantung pada evaluasi dampak nyata—baik dari sisi sosial maupun ekonomi. Data kunjungan wisatawan, respons masyarakat, dan dampak ekonomi lokal perlu dikumpulkan untuk mengukur efektivitas acara dan menjadi dasar perencanaan event serupa di masa depan.

Illumination of Jakarta, Glow of Peace dapat menjadi preseden penting bagi Jakarta dalam menggunakan event keagamaan sebagai instrumen soft diplomacy dan branding kota. Jika berhasil, model ini dapat memperkuat posisi Jakarta bukan hanya sebagai pusat ekonomi dan politik, tetapi juga sebagai kota yang merayakan keberagaman dengan cara yang bermartabat dan inklusif.

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram
📢 RUANG IKLAN
Brand Anda Layak Tampil Disini
Posisi strategis di portal berita Bangka Belitung. Audience tepat sasaran.
📞 Hubungi Marketing →

📝 Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Komentar akan ditinjau sebelum tampil.