Festival Waisak di Bundaran HI juga dapat menjadi model replikasi untuk perayaan keagamaan lain, menciptakan kalender event tahunan yang konsisten dan dapat diandalkan sebagai aset pariwisata kota. Diversifikasi event berbasis keagamaan dan budaya ini penting untuk mengurangi ketergantungan Jakarta pada segmen wisata bisnis dan MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) semata.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga berharap masyarakat dapat terus menjaga kebersamaan dan keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga Jakarta dapat menjadi ruang bersama yang aman, nyaman, dan ramah bagi semua. Harapan ini bukan hanya retorika, tetapi kebutuhan nyata mengingat Jakarta sebagai ibu kota negara sering menjadi barometer situasi sosial-politik nasional.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meski inisiatif ini mendapat sambutan positif, tantangan tetap ada. Pengelolaan ruang publik untuk acara keagamaan harus dilakukan secara adil dan proporsional, memastikan semua kelompok merasa diakomodasi tanpa ada yang merasa diprioritaskan atau dikesampingkan. Pemerintah kota perlu konsisten dalam memberikan akses ruang publik untuk berbagai komunitas.
Selain itu, keberlanjutan program semacam ini juga bergantung pada evaluasi dampak nyata—baik dari sisi sosial maupun ekonomi. Data kunjungan wisatawan, respons masyarakat, dan dampak ekonomi lokal perlu dikumpulkan untuk mengukur efektivitas acara dan menjadi dasar perencanaan event serupa di masa depan.
Illumination of Jakarta, Glow of Peace dapat menjadi preseden penting bagi Jakarta dalam menggunakan event keagamaan sebagai instrumen soft diplomacy dan branding kota. Jika berhasil, model ini dapat memperkuat posisi Jakarta bukan hanya sebagai pusat ekonomi dan politik, tetapi juga sebagai kota yang merayakan keberagaman dengan cara yang bermartabat dan inklusif.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.