Senin, 1 Juni 2026 WIB
BREAKING
BERITA

Wabup Belitung: Hari Lahir Pancasila Jadi Momentum Jaga Keutuhan Bangsa

Upacara peringatan Hari Lahir Pancasila di Kantor Bupati Belitung
Foto: Prokopim Kabupaten Belitung / Wikimedia Commons (Public domain)

Wakil Bupati Belitung Syamsir menegaskan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 2026 harus dijadikan momentum untuk memperkuat kembali keutuhan bangsa Indonesia. Pernyataan ini disampaikan di tengah kekhawatiran akan pergeseran nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara yang dinilai mulai mengikis fondasi ideologi negara.

Syamsir menyampaikan pandangan tersebut usai bertindak sebagai inspektur upacara peringatan Hari Lahir Pancasila di halaman Kantor Bupati Belitung, Tanjungpandan, Senin (1/6/2026). Dalam pidatonya, ia menyoroti dinamika yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dalam beberapa waktu terakhir.

“Peringatan hari lahirnya Pancasila 1 Juni adalah momentum untuk menjaga keutuhan bangsa dan negara,” ujarnya di hadapan para aparatur sipil negara dan undangan yang hadir dalam upacara.

Kekhawatiran Terhadap Pergeseran Nilai-Nilai Pancasila

Wakil Bupati Belitung menilai telah terjadi dinamika atau pergeseran dalam nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara dalam beberapa waktu terakhir. Meski tidak menyebutkan secara spesifik bentuk pergeseran tersebut, Syamsir menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap tren yang dapat mengancam keutuhan nasional.

Pergeseran nilai kehidupan berbangsa yang dimaksud bisa merujuk pada berbagai fenomena yang berkembang di Indonesia, mulai dari meningkatnya narasi primordialisme, memudarnya semangat gotong royong, hingga polarisasi politik yang semakin tajam dalam beberapa tahun terakhir. Di berbagai daerah, termasuk Kepulauan Bangka Belitung, dinamika sosial-politik lokal juga menunjukkan tantangan dalam mempertahankan kohesi sosial.

Oleh karena itu, momentum peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 menjadi titik refleksi sekaligus titik balik untuk memperkuat kembali nilai-nilai keutuhan bangsa dan negara. Syamsir mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali mendalami dan mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Ajakan Kolaborasi dan Cinta Tanah Air

Dalam pidatonya, Syamsir juga mengajak seluruh komponen masyarakat untuk meningkatkan rasa cinta terhadap bangsa dan Tanah Air. Ia menekankan pentingnya kolaborasi, kekompakanm dan semangat “keroyokan” dalam pembangunan bangsa.

“Ayo kita mencintai bangsa Indonesia ini, ayo kita mencintai Tanah Air, ayo terus berkolaborasi, kompak, dan keroyokan dalam pembangunan bangsa,” ujar Syamsir dengan nada mengajak.

Penggunaan istilah “keroyokan” dalam konteks ini merujuk pada semangat gotong royong yang merupakan salah satu nilai luhur Pancasila, khususnya terkandung dalam sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Ajakan ini menjadi relevan di tengah tantangan pembangunan daerah di Belitung yang memerlukan sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat.

Kabupaten Belitung sendiri, sebagai bagian dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, memiliki berbagai potensi ekonomi mulai dari pariwisata, perikanan, hingga pertambangan yang memerlukan kolaborasi lintas sektor untuk pengelolaan yang berkelanjutan dan berkeadilan.

Pancasila dalam Konteks Politik Global

Syamsir juga mendorong agar pengamalan dan penghayatan nilai-nilai Pancasila terus diimplementasikan dalam seluruh sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia menilai hal ini penting dilakukan dalam rangka menyikapi dan menghadapi situasi politik global saat ini.

Konteks politik global yang dimaksud mencakup berbagai dinamika internasional, termasuk ketegangan geopolitik antara kekuatan-kekuatan besar, konflik regional yang masih berlangsung di berbagai belahan dunia, hingga tantangan terhadap multilateralisme dan tatanan berbasis aturan internasional.

Dalam situasi tersebut, Pancasila dipandang tidak hanya sebagai ideologi domestik, tetapi juga sebagai kontribusi Indonesia terhadap perdamaian dunia. Hal ini sejalan dengan tema yang diusung dalam Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026, yaitu “Pancasila Pemersatu Bangsa, Pondasi Perdamaian Dunia”.

“Tema ini merupakan sebuah pernyataan tegas bahwa nilai-nilai luhur Pancasila tidak hanya relevan untuk menjaga keutuhan bangsa Indonesia, namun demikian juga menjadi jawaban terciptanya perdamaian dunia yang abadi,” kata Syamsir.

Pancasila sebagai Bintang Penuntun Bangsa

Wakil Bupati Belitung menyebut Pancasila sebagai “bintang penuntun” yang telah membuktikan ketangguhannya dalam membimbing perjalanan bangsa Indonesia. Metafora ini merujuk pada peran Pancasila sebagai kompas moral dan ideologis yang telah memandu Indonesia melalui berbagai fase sejarah yang penuh tantangan.

Sejak kemerdekaan hingga saat ini, Pancasila telah menjadi perekat yang menyatukan bangsa dengan keberagaman suku, agama, ras, dan golongan. Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau dan ratusan etnis, membutuhkan fondasi ideologis yang kuat untuk menjaga persatuan dan kesatuan.

Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa upaya-upaya untuk menggantikan Pancasila dengan ideologi lain telah berulang kali gagal. Dari pemberontakan DI/TII, pemberontakan PKI, hingga berbagai gerakan radikalisme kontemporer, semuanya tidak mampu menggoyahkan posisi Pancasila sebagai dasar negara.

Di tingkat daerah, implementasi nilai-nilai Pancasila juga menjadi penting dalam menjaga harmoni sosial. Kabupaten Belitung, yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam namun juga dihuni oleh penganut agama lain, telah menunjukkan praktik toleransi dan kerukunan yang baik sebagai cerminan pengamalan Pancasila.

Implementasi di Tingkat Daerah

Peringatan Hari Lahir Pancasila di Belitung menjadi salah satu dari ribuan upacara serupa yang digelar di seluruh Indonesia. Di tingkat daerah, upacara semacam ini bukan sekadar ritual seremonial, tetapi juga momen untuk menginternalisasi kembali nilai-nilai Pancasila kepada aparatur pemerintah dan masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Belitung di bawah kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati telah menunjukkan komitmen untuk mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dalam berbagai kebijakan pembangunan. Dari sektor pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi, prinsip-prinsip keadilan sosial, persatuan, dan musyawarah menjadi landasan dalam perumusan program.

Syamsir, sebagai wakil kepala daerah, memiliki peran strategis dalam memastikan bahwa nilai-nilai Pancasila tidak hanya menjadi retorika, tetapi benar-benar dipraktikkan dalam tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik. Ajakan untuk berkolaborasi dan kompak dalam pembangunan menjadi kunci dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat Belitung.

Ke depan, tantangan bagi pemerintah daerah adalah bagaimana menerjemahkan nilai-nilai Pancasila ke dalam program-program konkret yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Dari program pemberantasan kemiskinan, peningkatan kualitas pendidikan, hingga pemerataan pembangunan infrastruktur, semuanya harus berlandaskan pada prinsip-prinsip Pancasila, khususnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

📝 Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Komentar akan ditinjau sebelum tampil.