Hari keempat perayaan Idul Adha di Palestina diwarnai kembali oleh kekerasan. Sabtu (30 Mei 2026), seorang dokter senior di Gaza tewas dalam serangan Israel yang menghantam wilayah dekat Rumah Sakit Al-Aqsa Martyrs di Deir al-Balah, Gaza tengah. Dr Jamal Abu Aboun, kepala departemen anestesi di Al-Yafa Medical Hospital, menjadi korban terbaru dari apa yang oleh Kantor Media Gaza disebut sebagai pelanggaran sistematis terhadap gencatan senjata yang seharusnya menghentikan perang di wilayah enklave yang terkepung ini.
Kematian dokter Abu Aboun bukan sekadar tragedi individu. Ia adalah simbol dari kerapuhan perjanjian damai yang gagal melindungi warga sipil—termasuk tenaga medis yang seharusnya mendapat proteksi khusus di bawah hukum humaniter internasional. Sejak gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat mulai berlaku Oktober lalu, setidaknya 922 warga Palestina telah tewas dan 2.786 lainnya terluka dalam serangan Israel, menurut data resmi Gaza Media Office. Angka ini menggarisbawahi fakta bahwa “ceasefire” yang dijanjikan lebih banyak di atas kertas ketimbang di lapangan.
Di saat yang sama, kekerasan juga merebak di Tepi Barat yang diduduki Israel. Pemukim Israel menyerang rumah-rumah warga Palestina di kota Beita, selatan Nablus, pada Sabtu dini hari. Mereka melempar batu ke rumah-rumah penduduk dan menghancurkan sejumlah kendaraan, sementara pasukan Israel menembakkan bom cahaya ke langit kota tersebut. Pola serangan ganda—di Gaza dan Tepi Barat—menunjukkan eskalasi terkoordinasi yang mengancam stabilitas regional.
Latar Belakang Gencatan Senjata yang Rapuh
Gencatan senjata yang ditandatangani Oktober lalu seharusnya menjadi titik balik dari perang yang telah menewaskan sedikitnya 72.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 172.000 lainnya sejak Oktober 2023. Perjanjian yang dimediasi Washington ini dijual ke publik internasional sebagai jalan keluar dari apa yang oleh banyak pihak—termasuk pengadilan internasional—disebut sebagai “perang genosida” Israel terhadap Gaza.
Namun realitas di lapangan jauh dari harapan. Serangan artileri Israel terus menargetkan area timur dan selatan kota Khan Younis di Gaza selatan, serta kamp pengungsi al-Bureij di Gaza tengah pada Sabtu kemarin. Drone Israel juga menembakkan roket dekat Firas Market, salah satu area komersial tersibuk di Kota Gaza, menewaskan satu orang dan melukai beberapa lainnya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.