Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong melemparkan peringatan keras seminggu sebelum Shangri-La Dialogue 2026 dimulai: “Realitas di dunia yang berubah ini adalah akan ada lebih banyak volatilitas — kita akan menghadapi badai demi badai.”
Peringatan itu terbukti menjadi pembuka yang tepat untuk konferensi keamanan tahunan paling bergengsi di Asia-Pasifik. Berlangsung di Singapura pekan ini, forum yang dihadiri menteri pertahanan, pejabat militer senior, dan pakar keamanan dari seluruh dunia itu menghasilkan satu kesimpulan dominan: kawasan Asia-Pasifik sedang memasuki fase rearmament dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Shangri-La Dialogue (SLD), yang diselenggarakan sejak 2002 oleh International Institute for Strategic Studies (IISS) berbasis London, tahun ini mencatat pergeseran fundamental dalam cara negara-negara Asia-Pasifik merespons ancaman keamanan. Bukan lagi melalui diplomasi dan pembangunan semata, tetapi melalui peningkatan kapasitas militer secara masif.
Menurut data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), belanja militer di kawasan Asia-Pasifik melonjak 8,1% pada 2025 menjadi $681 miliar. Angka ini bahkan dipandang belum memadai oleh Amerika Serikat, yang secara eksplisit mendesak sekutu-sekutunya untuk menambah investasi pertahanan.
Eskalasi Konflik yang Memicu Rearmament
Lonjakan belanja militer ini bukan tanpa alasan. Beberapa bulan terakhir mencatat serangkaian eskalasi konflik di kawasan yang memperkuat narasi bahwa Asia-Pasifik tengah memasuki fase paling tidak stabil dalam beberapa dekade.
Pada Mei 2025, India dan Pakistan terlibat perang singkat namun intens. Hanya beberapa bulan kemudian, konflik Thailand-Kamboja yang berkepanjangan baru berakhir pada Desember 2025. Februari 2026 mencatat intensitas baru dalam bentrokan berulang antara Pakistan dan Afghanistan, yang kali ini melibatkan serangan udara Pakistan.
Perang saudara Myanmar yang telah berlangsung bertahun-tahun terus berlanjut tanpa tanda-tanda penyelesaian. Ketegangan di Laut China Selatan secara rutin memanas. Taiwan, yang menjadi fokus dari banyak isu keamanan kawasan, tetap menjadi titik ketidakpastian terbesar.
Evan A. Laksmana, Senior Fellow untuk Keamanan dan Pertahanan Asia Tenggara di IISS, merangkumnya dalam laporan keamanan tahunan SLD: “Negara-negara regional — baik yang besar, menengah maupun kecil — tidak dapat melepaskan diri dari lingkungan keamanan yang memburuk ini.”

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.