Minggu, 19 Juli 2026 WIB
BREAKING
KESEHATAN

Ebola Tewaskan 246 Orang di Kongo dan Uganda

Tim medis dalam hazmat menangani pasien Ebola di rumah sakit lapangan Afrika dengan protokol isolasi ketat
(Ilustrasi: AI)

Krisis kesehatan kembali menghantui benua Afrika. Wabah virus Ebola di Republik Demokratik Kongo dan Uganda telah menewaskan 246 orang. Angka ini memicu alarm internasional terhadap potensi penyebaran lebih luas ke wilayah sekitar.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan peringatan khusus terkait pola penularan. Sebagian besar kasus terjadi dalam konteks yang sangat manusiawi: saat keluarga merawat anggota yang terinfeksi.

Pernyataan WHO mengungkap dimensi tragis dari wabah ini. Kasih sayang dan kepedulian terhadap keluarga justru menjadi jalur utama penularan virus dengan tingkat kematian sangat tinggi. Tanpa perlindungan dan protokol medis memadai, kontak dengan cairan tubuh pasien Ebola dapat mengakibatkan penularan yang hampir pasti fatal.

Situasi ini menciptakan dilema moral bagi masyarakat di wilayah terdampak. Mereka harus memilih antara merawat keluarga dengan risiko tertular atau membiarkan mereka menderita sendirian.

Kecepatan penyebaran dan jumlah korban yang mencapai ratusan mengingatkan pada fase awal pandemi Covid-19. Namun Ebola memiliki karakteristik berbeda. Virus ini dikenal memiliki tingkat fatalitas kasus jauh lebih tinggi dibandingkan Covid-19. Case fatality rate Ebola mencapai 50 hingga 90 persen, tergantung strain virus dan kecepatan penanganan medis.

Sejarah Panjang Ebola di Afrika Tengah

Republik Demokratik Kongo memiliki sejarah panjang dengan wabah Ebola. Negara ini telah mengalami lebih dari selusin wabah sejak virus pertama kali diidentifikasi di wilayah dekat Sungai Ebola pada tahun 1976.

Wabah terbesar terjadi antara 2018-2020 di provinsi timur Kongo. Kejadian itu menewaskan lebih dari 2.200 orang dan menjadi wabah Ebola terbesar kedua dalam sejarah. Rekor terburuk tetap dipegang epidemi Afrika Barat 2014-2016 yang merenggut lebih dari 11.000 jiwa.

Geografis Kongo yang luas dengan infrastruktur kesehatan terbatas menciptakan tantangan tersendiri. Konflik bersenjata di beberapa wilayah dan mobilitas penduduk yang tinggi memperparah kondisi. Faktor-faktor ini menciptakan kondisi ideal bagi penyebaran virus.

Uganda berbatasan langsung dengan Kongo bagian timur. Negara ini kerap menjadi korban spillover—penyebaran lintas batas—dari wabah yang dimulai di negara tetangganya. Kedekatan geografis, hubungan perdagangan, dan pergerakan masyarakat di wilayah perbatasan membuat kontrol penyebaran menjadi tantangan kompleks.

Halaman:123Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda