Rabu, 22 Juli 2026 WIB
BREAKING
POLITIK PEMERINTAHAN

15 Poin Krusial UU P2SK: Revisi Mandat BI dan Wewenang DPR

Suasana sidang paripurna DPR RI saat pengesahan revisi UU P2SK dengan anggota dewan mengangkat tangan
(Ilustrasi: AI)

Kedua, regulasi baru menambah wewenang DPR untuk melakukan evaluasi berkala—minimal setahun sekali—terhadap implementasi kebijakan moneter dan langkah-langkah stabilisasi yang diambil BI. Mekanisme ini dirancang untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas publik, tanpa mengorbankan independensi operasional bank sentral dalam menjalankan mandat stabilitas harga dan sistem keuangan.

Ketiga, revisi memperjelas mekanisme koordinasi antara Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK)—yang beranggotakan Menteri Keuangan, Gubernur BI, Ketua Dewan Komisioner OJK, dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Dalam situasi krisis, KSSK dapat mengambil keputusan cepat tanpa menunggu prosedur birokratis panjang, termasuk menyetujui bailout atau likuidasi institusi keuangan yang bermasalah.

Poin-poin lain mencakup penguatan framework untuk penanganan bank sistemik yang gagal, penetapan kriteria lebih jelas untuk intervensi pemerintah, pengaturan burden-sharing antara pemerintah dan industri dalam pembiayaan resolusi krisis, serta perlindungan hukum bagi pejabat yang mengambil keputusan dalam kondisi darurat.

Implikasi Terhadap Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia

Revisi UU P2SK ini memiliki implikasi signifikan terhadap bagaimana Indonesia mengelola risiko sistemik di sektor keuangan. Dengan penguatan mandat BI, bank sentral kini memiliki toolkit yang lebih lengkap untuk melakukan early intervention ketika muncul sinyal-sinyal ketegangan di pasar uang, perbankan, atau pasar modal. Hal ini diharapkan dapat mencegah eskalasi masalah kecil menjadi krisis penuh yang memerlukan biaya fiskal besar.

Bagi industri keuangan, regulasi baru ini membawa konsekuensi peningkatan standar pengawasan dan pelaporan. Bank-bank dan lembaga keuangan besar kemungkinan akan menghadapi stress test yang lebih ketat dan kewajiban menyiapkan recovery and resolution plan sebagai bagian dari mitigasi risiko sistemik. Di sisi lain, kejelasan mekanisme penanganan krisis dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap ketahanan sistem keuangan Indonesia.

Penambahan wewenang DPR dalam evaluasi berkala juga membawa dimensi politik baru. Meskipun dirancang untuk meningkatkan akuntabilitas, mekanisme ini harus dijalankan secara hati-hati agar tidak menciptakan tekanan politik yang kontraproduktif terhadap kebijakan moneter. Pengalaman internasional menunjukkan bahwa independensi bank sentral yang terjaga dengan akuntabilitas demokratis yang kuat adalah kombinasi ideal untuk stabilitas ekonomi jangka panjang.

Halaman:123Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda