JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Program cofiring biomassa yang digenjot Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berhasil memangkas emisi karbon sebesar 2,57 juta ton CO₂ sepanjang 2025, dengan 52 PLTU di seluruh Indonesia memakai campuran limbah organik dan batu bara sebagai bahan bakar.
Angka itu bukan sekadar klaim. Laporan resmi Kementerian ESDM dan PLN per Juni 2026 mencatat volume biomassa yang digunakan tahun lalu mencapai 2,35 juta ton, sebuah lompatan yang menjadikan cofiring sebagai salah satu instrumen paling konkret dalam peta transisi energi nasional.
Dampaknya langsung terasa di dua sisi yaitu lingkungan dan ekonomi. Program ini berpotensi menyerap hingga 150 ribu tenaga kerja di sektor pengumpulan dan pengolahan biomassa, dengan nilai ekonomi diperkirakan mencapai Rp11 triliun per tahun.
Apa Itu Cofiring Biomassa
Cofiring adalah teknik pembakaran campuran batu bara dengan biomassa — sekam padi, serbuk gergaji, cangkang sawit, jerami, hingga limbah kayu — dalam rasio umumnya 5–10% dari total bahan bakar. Teknologi ini tidak memerlukan modifikasi besar pada mesin PLTU yang sudah beroperasi, sehingga implementasinya jauh lebih cepat dibanding membangun pembangkit energi terbarukan baru dari nol.
Prinsip lingkungannya sederhana: biomassa bersifat karbon netral. Karbon yang dilepaskan saat dibakar setara dengan yang diserap tanaman selama masa tumbuhnya berbeda dengan batu bara yang melepas karbon yang tersimpan jutaan tahun di bawah tanah.
Landasan hukumnya diatur dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 Tahun 2023 tentang pemanfaatan biomassa sebagai campuran bahan bakar PLTU.
Data Pengurangan Emisi: Dari 2025 ke Target 2027
Tren pengurangan emisi dari program ini terbaca jelas dalam data resmi pemerintah.
| Periode | Volume Biomassa | Pengurangan Emisi CO₂ |
|---|---|---|
| Tahun 2025 | 2,35 juta ton | 2,57 juta ton CO₂ |
| Triwulan I 2026 | 460 ribu ton | 550 ribu ton CO₂ |
| Target 2027 | 10,2 juta ton/tahun | 11,58 juta ton CO₂/tahun |
Target 2027 itu setara dengan menanam 128 juta pohon. Dari sisi teknis, setiap substitusi 10% batu bara dengan biomassa mampu menurunkan emisi karbon hingga 12–15%, sekaligus menekan polutan berbahaya seperti sulfur dioksida (SO₂) dan nitrogen oksida (NOₓ).
Manfaat Ganda: Listrik Stabil, Limbah Jadi Cuan
Salah satu keunggulan yang kerap luput dari perhatian: cofiring tidak bergantung pada cuaca. Berbeda dengan tenaga surya atau angin, pembangkit berbasis cofiring tetap beroperasi stabil sepanjang waktu dan faktor krusial untuk menjaga keandalan pasokan listrik nasional.
Limbah perkebunan dan sawit yang selama ini terbuang kini punya nilai ekonomi. Proses pembusukan limbah organik sendiri menghasilkan metana serta gas rumah kaca yang jauh lebih kuat dari CO₂. Mengolahnya menjadi bahan bakar berarti memutus dua sumber emisi sekaligus.
Program ini juga mendongkrak porsi energi baru terbarukan (EBT) sekitar 1,8%, bagian dari perjalanan panjang menuju target bauran EBT 23% dan netral karbon pada 2060.
Hambatan yang Belum Selesai
Implementasi di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala nyata. Biomassa tersebar di wilayah luas dan membutuhkan sistem pengumpulan terorganisir. Kualitas bahan baku pun harus dijaga dan perlu diolah menjadi pelet dengan nilai kalor yang stabil agar efisiensi pembakaran terjaga. Biaya logistik dari daerah produksi ke lokasi PLTU juga masih menjadi beban.
Pemerintah menjawab tantangan itu dengan beberapa langkah konkret: menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk pelet biomassa, membangun sentra pengolahan di daerah penghasil limbah, menjamin harga beli tetap dari PLN selama 15 tahun, serta mengembangkan rantai pasok yang melibatkan koperasi dan petani lokal.
Ke depan, pemerintah menargetkan rasio pencampuran biomassa ditingkatkan hingga 20–30% seiring kesiapan infrastruktur dan ketersediaan pasokan yang semakin luas. Cofiring bukan solusi akhir, tapi jembatan paling realistis yang dimiliki Indonesia untuk memangkas emisi tanpa memadamkan lampu.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.