IEA dan IESR sama-sama mencatat inkonsistensi kebijakan sebagai kendala sistemik. Aturan sering berubah seiring pergantian kepemimpinan, kewenangan pusat dan daerah kerap tumpang tindih, dan sejumlah regulasi masih lebih menguntungkan energi fosil.
Indonesia tetap menjadi eksportir batu bara terbesar dunia. Ketergantungan pada komoditas ini menciptakan dilema nyata: mendorong transisi EBT berarti menggerus pendapatan dari sektor yang selama ini menjadi tulang punggung devisa.
Ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang ketat juga menjadi hambatan tersendiri. Persyaratannya sering melebihi kesiapan industri manufaktur lokal, sehingga proyek EBT terganjal di tahap pengadaan komponen.
Masalah Lahan dan Penolakan Warga Tak Bisa Diabaikan
Di tingkat lapangan, proyek EBT skala besar menghadapi resistensi sosial yang tidak kecil. Kebutuhan lahan luas kerap berbenturan dengan kawasan pertanian, hutan lindung, dan wilayah adat. Sosialisasi yang kurang dan minimnya manfaat langsung bagi warga sekitar memicu penolakan di berbagai daerah.
Dampak lingkungan pun tak bisa diabaikan begitu saja. Pembangkit listrik tenaga air berskala besar, misalnya, berpotensi mengubah pola aliran sungai dan mengganggu habitat satwa. Ini menjadi perhatian tersendiri, terutama di kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi seperti Kalimantan dan Papua.
Kementerian ESDM menyebutkan pemerintah tengah menyiapkan skema pembagian manfaat yang lebih transparan bagi masyarakat sekitar proyek, sekaligus memperkuat proses sosialisasi sebelum konstruksi dimulai.
Langkah Pemerintah ke Depan
Untuk mendorong akselerasi, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah konkret: rencana pembangunan jaringan listrik antarpulau atau super grid, pengembangan sistem penyimpanan energi baterai skala besar, serta penerapan manajemen jaringan pintar (smart grid).
Target 2025 yang meleset pada bauran EBT baru 17,89% dari sasaran 23% membuat tekanan semakin besar menjelang 2030. Tanpa penyelesaian hambatan struktural secara bersamaan, gap antara potensi 3.687 GW dan realisasi di lapangan akan terus melebar.
| Indikator | Data |
|---|---|
| Potensi EBT nasional | 3.687 GW |
| Bauran EBT April 2026 | 17,89% |
| Target bauran EBT 2025 | 23% |
| Target tahunan (terpenuhi) | 16,46% |
| Realisasi investasi EBT 2025 | USD 2,4 miliar |
| Target netral karbon | 2060 |

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.