Keputusan untuk membongkarnya demi modernisasi fasilitas GBK memang telah final dari pihak pengelola. Namun bagi kalangan arkeologi, sejarah, dan budaya, ini adalah kehilangan yang tidak dapat balik. Dokumentasi arsitektur telah dilakukan beberapa aktivis dengan mendatangi Hotel Sultan untuk mengambil foto dan catatan terakhir sebelum dinding-dindingnya rata dengan tanah.
Kesiapan Simpatisan dan Potensi Aksi
Organisasi pemerhati cagar budaya telah mengeluarkan pernyataan keprihatinan. Mereka mengajukan pertanyaan mengapa bangunan bersejarah semacam itu harus dihancurkan tanpa ada upaya konservasi atau adaptif reuse yang lebih bijaksana. Beberapa aktivis berharap pemerintah pusat akan turun tangan dan meninjau ulang keputusan, meski waktu sudah sangat terbatas.
Di lapangan, energi simpatisan terus membesar. Beberapa kelompok menyiapkan logistik untuk aksi panjang—air minum, makanan, tenda kecil, dan protokol medis darurat bila terjadi bentrok atau kecelakaan. Mereka juga menyebarkan panduan cara bertahan menghadapi gas air mata atau tindakan represif aparat, menunjukkan ekspektasi mereka akan aksi drastis.
Pihak kepolisian dan aparat keamanan tampak siap dengan skenario escalation. Barisan polisi anti-huru-hara, anjing pelacak, dan kendaraan tempur sudah disiapkan di lokasi strategis. Instruksi kepada aparat adalah memastikan zona operasi tetap bersih dari pengunjuk rasa yang berlebihan, tapi juga menghindari kekerasan berlebihan yang bisa mengundang kecaman publik dan media massa.
Jam Penghitungan Mundur
Gelang waktu semakin ketat. Setiap jam yang berlalu, berita tentang hotel segera dibongkar itu terus berseliweran di medsos dan grup komunitas. Tick-tock dramatis menciptakan suasana seperti countdown eksekusi betul-betul. Malam sebelumnya, telegram, Twitter, dan Instagram dipenuhi kiriman photo memories dan cerita-cerita personal orang yang pernah menginap atau merayakan acara penting di Hotel Sultan.
Beberapa orang tua bercerita kepada anak-anak mereka tentang pengalaman dulu bermalam di hotel itu, bernostalgia dengan pelayanan yang ramah dan makanan yang lezat. Atmosfer itu memperkuat solidaritas emosional di antara mereka yang merasa rugi atas keputusan pembongkaran. Solidaritas berubah jadi motivasi untuk hadir di lapangan dan menaruh tubuh di antara buldoser dan bangunan bersejarah.
Pemerintah melalui pengelola GBK terus menandaskan bahwa keputusan final dan tidak dapat ditawar. Modernisasi kompleks olahraga itu dianggap prioritas untuk meningkatkan standar fasilitas internasional jelang berbagai acara olahraga besar di masa depan. Pembongkaran Hotel Sultan adalah bagian integral dari masterplan itu, dan eksekusi hari ini adalah perwujudan komitmen pemerintah terhadap grand design tersebut.
Ketika matahari terbit hari ini, Jakarta akan menjadi saksi atas hilangnya satu landmark ikonik. Baik aparat maupun simpatisan sudah bersiap. Kawat berduri telah tertancap. Barikade atau pun bukaan—salah satu akan terjadi di lapangan hari ini. Sejarah Jakarta sedang diputuskan dalam hitungan jam.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.