Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
DAERAH

Menapak Jejak Peh Cun di Bangka

Menapak Jejak Peh Cun di Bangka
Tradisi Peh Cun di Bangka merayakan Qu Yuan, pejabat Chu kuno. Foto: Wikimedia Commons

PANGKALPINANG — Sebungkus cang berlapis daun pandan, dilempar ke laut. Bukan sampah. Penghormatan.

Setiap tanggal 5 bulan 5 menurut penanggalan Imlek, ritual itu terulang di delapan pantai Bangka: Buntu di Mentok, Sabang di Toboali, Komuk di Koba, Pinang di Pangkalpinang, Liusak di Baturusa, Liatkong di Sungailiat, Blijong di Belinyu, dan Nampong di Jebus. Tradisi bernama Peh Cun atau Ng Ngiat Ciat ini bukan sekadar membuat dan melempar makanan. Di balik setiap bungkusan ketan ada cerita penghormatan lintas 24 abad.

Dato’ Akhmad Elvian, sejarawan dan budayawan penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia, menjelaskan makna terdalam tradisi itu. “Peh Cun dalam dialek Hokkian berarti ‘mendayung perahu’,” ujar Elvian. Istilah itu merujuk pada simbol meninggalnya Qu Yuan, seorang pejabat negara Chu (339–277 Sebelum Masehi) yang terkenal karena kejujuran dan kecintaannya kepada rakyat.

Cerita Qu Yuan dan Pengorbanan untuk Kebenaran

Qu Yuan hidup di era negara-negara berperang di Tiongkok. Sebagai pejabat negara, ia dikenal setia dan dicintai rakyat. Namun, kekecewaan mendalam terhadap kondisi negaranya membuatnya memilih cara yang tragis: menceburkan diri ke Sungai Miluo.

Kematiannya bukan akhir dari ceritanya. Rakyat setempat, yang sedih atas kematian pejabat jujur itu, membuat kue ketan dan melemparkannya ke sungai agar ikan tidak memakan jenazahnya. Inilah asal mula tradisi yang kini dirayakan jutaan orang Tionghoa di seluruh dunia.

Di Bangka, tradisi ini dibawa oleh para pedagang dan imigran Tionghoa sejak tahun 1724. Mereka tidak hanya mempertahankan ritual, tetapi juga menyesuaikannya dengan kondisi lokal, menciptakan versi Bangka yang unik dan berpengaruh.

Kekhasan Bangka: Dari Ketan Hingga Pantai

Tidak semua daerah merayakan Peh Cun dengan cara yang sama. Di beberapa tempat, tradisi identik dengan kegiatan mendirikan telur agar berdiri tegak. Namun, masyarakat Tionghoa Bangka memilih rute lain: kue cang atau bakcang.

Proses pembuatan cang adalah ritual tersendiri. Ketan dicampur isian—daging babi, daging ayam, atau udang—kemudian dibentuk menyerupai prisma. Pembungkus adalah daun pandan atau daun bambu, diikat dengan tali dari kulit kayu. Setiap lapis memiliki makna: perlindungan, kehati-hatian, dan keindahan dalam kesederhanaan.

Halaman:12Semua Halaman

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda