Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
HUKUM KRIMINAL

Cerita Bocah 5 Tahun yang Membongkar Dugaan Pembunuhan Ibunya di Tambora Jakbar

Kawasan Angke Tambora Jakarta Barat tempat penemuan korban pembunuhan istri
Bocah 5 tahun bongkar dugaan pembunuhan ibunya di Tambora Jakbar. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Seorang anak berusia 5 tahun menjadi kunci pembuka misteri kematian ibunya di kawasan Angke, Tambora, Jakarta Barat. Bocah itu bercerita kepada tetangga bahwa ayahnya telah melakukan sesuatu yang mengerikan terhadap ibunya.

Keluguan anak tersebut menggoyahkan cerita yang sebelumnya tertutup rapi. Polda Metro Jaya kemudian menangkap seorang pria berinisial E (55) sebagai tersangka pembunuhan istri kandungnya yang tewas dengan posisi terlilit seprai di jendela rumah mereka.

Penemuan jenazah korban dilakukan pada Rabu sore. Tubuh wanita itu ditemukan dalam kondisi menggantung terlilit kain seprai putih, menciptakan kesan bunuh diri. Namun kondisi itu justru memicu kecurigaan penyidik.

Pengakuan dari Mulut Anak Kecil

Bocah itu, saksi mata tunggal, mengungkapkan kejadian sebenarnya tanpa mengerti konsekuensi perkataannya. Anak tersebut menceritakan bahwa ayahnya marah-marah dan melakukan sesuatu kepada ibu mereka sebelum ia ditemukan dalam kondisi terbaring.

“Anak itu bercerita kepada tetangga dengan cara sangat sederhana, seperti anak-anak bicara. Tapi informasi itu cukup untuk kami mulai menggali lebih dalam,” ungkap salah seorang petugas Polda Metro Jaya yang menangani kasus ini.

Penuturan anak itu menjadi titik balik penyidikan. Meskipun jenazah ditemukan dalam kondisi yang mengarahkan pada kasus bunuh diri, perkataan bocah 5 tahun itu membuka perspektif berbeda bagi tim investigasi.

Tragedi Keluarga di Rumah Sempit

Keluarga ini tinggal di sebuah rumah kecil di Jalan Angke, daerah padat penduduk Tambora. Pertemanan mereka dengan tetangga sekitar sempat menampilkan kehidupan yang biasa-biasa saja, meski beberapa tetangga mengaku sering mendengar suara pertengkaran.

Menurut laporan dari sejumlah sumber, pertikaian antara pasangan ini bukan kejadian pertama. Beberapa tetangga mengingat terdengar suara percekcokan keras dari dalam rumah mereka beberapa kali sebelumnya. Namun tidak ada laporan resmi yang dibuat sebelum peristiwa tragis itu terjadi.

Korban, seorang ibu rumah tangga berusia 52 tahun, tinggal bersama suami dan anak mereka yang masih sangat kecil. Kehidupan domestik mereka nyatanya menyimpan ketegangan yang akhirnya meledak.

Teori Pembunuhan Berkedok Bunuh Diri

Polisi menilai pria tersangka melakukan pembunuhan dengan cara mencekik korban menggunakan seprai. Setelah korban tidak berdaya, tersangka kemudian menempatkan tubuh korban dalam posisi menggantung untuk menciptakan kesan bunuh diri.

“Dari bukti di lapangan dan penuturan saksi, kami yakin ini kasus pembunuhan. Penempatan mayat dalam posisi itu dilakukan untuk menyembunyikan jejak kejahatan,” jelas Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya dalam konferensi pers, Kamis pagi.

Hasil pemeriksaan awal menunjukkan tanda-tanda kekerasan pada leher korban yang konsisten dengan teori pencekikan. Analisis forensik lebih lanjut sedang dilakukan untuk memperkuat dakwaan terhadap tersangka.

Motif pembunuhan masih dalam tahap penyidikan lebih lanjut. Awal dari pertengkaran yang malam itu adalah permasalahan rumah tangga yang sering mereka hadapi, demikian keterangan awal tersangka kepada penyidik.

Proses Hukum dan Nasib Anak Kecil

Tersangka E telah ditahan oleh Polda Metro Jaya dengan pasal pembunuhan. Kasusnya akan dilanjutkan ke Kejaksaan Negeri Jakarta Barat untuk tahap penuntutan resmi.

Sementara bocah 5 tahun, satu-satunya saksi mata, kini berada di bawah asuhan keluarga besar. Proses trauma healing akan dijalani anak tersebut untuk membantu penerimaan diri terhadap kehilangan ibunya dan penangkapan ayahnya dalam waktu singkat.

Dinas Perlindungan Anak Jakarta Barat menyatakan akan melakukan pendampingan terhadap bocah itu selama proses hukum berlangsung. Kesejahteraan psikologis anak menjadi prioritas utama, mengingat trauma yang dialaminya sangat berat.

Kasus ini menjadi reminder bahwa kekerasan dalam rumah tangga sering kali menyimpan potensi tragedi. Saksi-saksi dari kekerasan rumah tangga, termasuk anak-anak, memiliki peran penting dalam ungkap kasus meski mereka sendiri adalah korban emosional dari peristiwa itu.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda