Senin, 6 Juli 2026 WIB
BREAKING
HUKUM KRIMINAL

Wamensesneg dan Kivlan Zen Terluka Saat Kericuhan Eksekusi Hotel Sultan

Aparat keamanan Polda Metro Jaya mengamankan lokasi eksekusi Hotel Sultan di Jakarta saat terjadi kericuhan
JAKARTA — Wakil Menteri Sekretaris Negara dan tokoh bisnis Kivlan Zen mengalami luka saat terjadi kericuhan dalam pelaksanaan eksekusi pengambilan aset. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Wakil Menteri Sekretaris Negara dan tokoh bisnis Kivlan Zen mengalami luka saat terjadi kericuhan dalam pelaksanaan eksekusi pengambilan aset negara di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Jumat (17/1). Insiden tersebut menandai eskalasi ketegangan antara pemerintah dengan pihak yang masih mengklaim kepemilikan properti bersejarah itu.

Keduanya terluka dalam keributan yang terjadi saat tim eksekusi melakukan penyitaan aset. Polda Metro Jaya, yang mengamankan operasi tersebut, mencatat adanya resistensi dari sejumlah pihak di lapangan.

Eksekusi Hotel Sultan merupakan puncak dari perjalanan hukum yang panjang. Pengadilan telah resmi menyerahkan lahan strategis di kawasan Menteng itu kepada pemerintah. Namun, kubu yang mengklaim masih memiliki hak atas properti tersebut — termasuk pihak yang terkait dengan warisan Pontjo Sutowo — terus melakukan perlawanan.

Kronologi Kericuhan di Lapangan

Saat tim eksekusi dan aparat keamanan tiba di lokasi, sejumlah orang yang berada di dalam Hotel Sultan mulai melakukan perlawanan. Kericuhan sempat memanas ketika terjadi tarik-ulur antara pihak yang melindungi aset dan mereka yang menolak proses eksekusi.

Dalam keributan tersebut, Wakil Menteri Sekretaris Negara dan Kivlan Zen menjadi korban. Keduanya mengalami luka, meski detail jenis luka dan tingkat keparahannya belum diumumkan secara detail oleh pihak berwenang.

“Polda Metro Jaya utamakan keselamatan dan dialog,” kata juru bicara kepolisian. Meski demikian, eksekusi tetap dilanjutkan untuk memastikan aset negara dapat dikuasai pemerintah sesuai keputusan pengadilan.

Setelah proses eksekusi selesai, Hotel Sultan tampak lengang. Restoran di dalam bangunan masih menyisakan makanan dan perlengkapan yang tergeletak. Ini menunjukkan operasi dilakukan dengan cepat tanpa waktu bagi penghuni untuk membersihkan seluruh area secara tertib.

Latar Belakang Sengketa Properti

Hotel Sultan bukan sekadar properti komersial. Bangunan berlokasi strategis di Menteng, Jakarta Pusat, ini telah menjadi sumber sengketa kepemilikan selama bertahun-tahun. Pengadilan melalui putusan tegas menyatakan aset tersebut milik negara dan harus diserahkan kepada pemerintah.

Kubu Pontjo Sutowo, tokoh bisnis yang dulu memiliki hotel tersebut, terus melakukan resistensi. Mereka menganggap masih memiliki klaim hukum atas properti itu. Chandra Hamzah, mewakili pemerintah, merespons protes dari kubu Pontjo Sutowo dengan menegaskan keabsahan keputusan pengadilan.

“Pengadilan telah memutuskan. Pemerintah hanya melaksanakan keputusan hukum yang sudah final,” kata Chandra Hamzah, mengisyaratkan bahwa proses eksekusi tidak bisa ditawar lagi.

Sengketa ini mencerminkan dinamika kompleks dalam penyelesaian kasus aset negara yang terjerat dalam klaim pribadi. Hotel Sultan menjadi simbol dari banyak properti bersejarah di Jakarta yang masih dalam status hukum yang kusut.

Respons Keamanan dan Pengamanan Operasi

Polda Metro Jaya mengerahkan aparat untuk menjamin keselamatan dalam proses eksekusi. Meski terjadi kericuhan, kepolisian memprioritaskan dialog untuk mengurangi eskalasi. Strategi ini bertujuan meminimalkan korban luka dan tetap menjalankan amanat pengadilan.

Kehadiran aparat keamanan cukup besar mengingat prediksi adanya resistensi dari pihak-pihak yang tidak setuju. Namun, kericuhan tetap terjadi, menunjukkan emosi tinggi di lapangan.

Luka yang dialami Wakil Menteri Sekretaris Negara dan Kivlan Zen menjadi bukti nyata bahwa operasi ini bukan sekadar administrasi hukum biasa, melainkan eksekusi yang memerlukan penjagaan keamanan berlapis.

Setelah insiden, aparat terus berjaga di lokasi untuk memastikan tidak ada gangguan lebih lanjut terhadap proses pengambilalihan aset oleh pemerintah.

Masa Depan Hotel Sultan

Dengan telah diserahkannya Hotel Sultan kepada pemerintah, pertanyaan selanjutnya adalah apa yang akan dilakukan dengan properti bersejarah ini. Apakah akan digunakan untuk kepentingan publik, direstorasi, atau dijual? Keputusan tersebut akan ditentukan oleh pemerintah dalam waktu mendatang.

Sementara itu, insiden luka yang dialami oleh dua tokoh penting dalam proses ini menyisakan catatan tentang betapa sengitnya upaya pelaksanaan keputusan pengadilan ketika melibatkan aset bernilai tinggi dan riwayat sengketa yang panjang.

Kasus Hotel Sultan akan terus menjadi pelajaran tentang pentingnya penyelesaian sengketa aset negara melalui mekanisme hukum yang jelas, meski pada praktiknya tetap memerlukan pengamanan ketat di lapangan.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda