“Those top folks are getting asked to do more,” kata Gearhart. “In many cases, they’re getting asked to support other people in building the skills within the team.”
Di lapangan, pola ini gampang dikenali. Karyawan yang paling cekatan biasanya langsung diminta jadi “orang serba bisa”. Mereka diminta memeriksa hasil kerja rekan, mengajari alat baru, menyusun panduan, sambil tetap memenuhi target pribadi. Awalnya terasa aman. Lama-lama terkuras.
Kalau perusahaan tidak mengatur ulang beban kerja, adopsi AI bisa berubah jadi paradoks. Teknologinya dipakai untuk efisiensi, tetapi manusia yang menjalankannya justru semakin capek. Di sinilah istilah burnout AI terasa relevan.
Program wellness bukan tempelan
Gearhart menilai banyak perusahaan mencoba menahan risiko itu lewat program wellness. Namun program semacam itu tidak bisa diperlakukan sebagai bonus kosmetik. Karyawan, terutama yang performanya tinggi, ingin tahu apakah perusahaan sungguh peduli pada kesehatan mereka atau hanya mengejar output.
“It is really important…how the company is communicating to employees about the importance of them as a whole person, their whole life, and what they can do to support that,” ujarnya. “Being silent on that is probably one of the biggest mistakes that folks make.”
Kalau perusahaan diam, pesan yang diterima karyawan sering kali sederhana: kerja dulu, urusan lain belakangan. Padahal, menurut Gearhart, retensi talenta butuh pengakuan yang lebih utuh terhadap manusia, bukan sekadar hasil kerja.
Ia juga menekankan pentingnya memahami kebutuhan wellness tiap orang secara individual. Bagi satu orang, dukungan yang dibutuhkan mungkin jadwal kerja yang lebih masuk akal. Bagi yang lain, itu bisa berupa ruang istirahat, bantuan kesehatan mental, atau pengaturan target yang lebih realistis. Tidak ada formula tunggal. Dan itu justru poin pentingnya.
Apa artinya bagi pekerja dan perusahaan
Bagi pekerja, temuan ini mengingatkan bahwa tekanan AI tidak selalu datang dari mesin. Tekanan sering muncul dari manusia yang mengatur mesin itu. Ketika atasan meminta lebih banyak, sementara sistem belum menyesuaikan kapasitas, burnout gampang naik tanpa banyak tanda awal.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.