Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Kecurangan akademik di Harvard masih tinggi, 47% senior mengaku

Ilustrasi kecurangan akademik di kampus dan ujian
Kecurangan akademik di Harvard disebut sudah lama ada; 47% senior mengaku menyontek, dan AI bukan satu-satunya penyebab. (Ilustrasi: AI)

Ada juga mekanisme pembenaran yang lebih licin. Seseorang tahu tindakannya salah, tapi ia berkata semua orang melakukannya. Ada yang menyalahkan guru. Ada yang merasa definisi menyontek terlalu kabur. Ada pula yang menganggap menyalin jawaban teman hanya “bantu-bantu”.

Para sosiolog Gresham Sykes dan David Matza menyebut pola itu sebagai techniques of neutralization, atau teknik penetralan. Istilahnya akademis. Intinya sederhana: orang mencari alasan agar perilaku buruk terasa wajar di kepalanya sendiri.

Inilah yang membuat kecurangan akademik sulit diberantas. Pelakunya sering tidak melihat dirinya sebagai penyontek. Ia hanya merasa sedang bertahan.

Harvard, Princeton, dan kampus yang mengencangkan aturan

Kasus di Harvard memperlihatkan bagaimana kampus-kampus elite pun tidak kebal. Dalam tulisan Matthew Tobin di Harvard Crimson, ia mengutip survei 2024 yang menunjukkan 47 persen dari 850 mahasiswa tingkat akhir mengaku pernah menyontek. Tobin menulis bahwa sebagian orang menyalahkan AI dan menurunnya keterlibatan belajar mahasiswa. Namun, plagiarisme dan pelanggaran akademik, katanya, sudah terjadi jauh sebelum era itu.

Data lain memperkuat gambaran serupa. Studi pada 2020 terhadap 840 mahasiswa S1 menemukan 32 persen di antaranya pernah menyontek dalam bentuk tertentu saat ujian. Di Ohio State University, laporan pelanggaran akademik meningkat 57 persen antara 2014 dan 2018. Peneliti menyebut angka itu kemungkinan masih lebih rendah dari kenyataan, karena banyak kasus tidak dilaporkan.

Kampus-kampus pun mulai mengubah cara mengawasi ujian. Wall Street Journal melaporkan pada 2025 bahwa sejumlah dosen di Amerika meninggalkan tugas tulis yang mudah dibuat dengan bantuan AI, lalu kembali ke ujian tatap muka. Princeton bahkan menghapus larangan proctoring yang sudah berumur 133 tahun untuk merespons kekhawatiran soal pelanggaran integritas akademik, termasuk maraknya penggunaan AI.

Harvard sendiri punya aturan keras. Kebijakan kampus itu menyebut menyontek pada ujian, menjiplak, memalsukan data, atau mengaku ide orang lain sebagai milik sendiri sebagai pelanggaran terhadap standar komunitas akademik. Sanksinya bisa berat, dari gagal mata kuliah sampai dikeluarkan.

Masalahnya, aturan saja tak cukup kalau pelanggaran jarang dilaporkan. Banyak dosen memilih diam. Ada yang enggan berurusan dengan birokrasi. Ada yang ragu bukti cukup kuat. Akibatnya, pesan ke mahasiswa jadi kabur.

Halaman:123Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda