Minggu, 9 Agustus 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Komisi Greenspan Selamatkan Jaminan Sosial AS dari Krisis

Komisi Greenspan dan dokumen Jaminan Sosial AS
Komisi Greenspan Selamatkan Jaminan Sosial AS dari Krisis. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Komisi Greenspan kembali dibahas setelah Alan Greenspan, mantan ketua Federal Reserve Amerika Serikat, meninggal dunia pada Senin dalam usia 100 tahun. Sorotan itu bukan pada masa jabatannya di bank sentral, melainkan pada peran pentingnya di 1983 ketika ia memimpin komisi bipartisan untuk menyelamatkan Jaminan Sosial AS dari ancaman kolaps pendanaan, menurut laporan MarketWatch.

Langkah itu punya dampak besar. Program Jaminan Sosial AS yang saat itu berada di ujung ketidakmampuan bayar berhasil diberi napas panjang. MarketWatch mencatat, hasil kerja komisi itu memperpanjang umur program tersebut sekitar setengah abad. Kini, dana perwalian atau trust fund Jaminan Sosial AS diperkirakan masih bertahan hingga 2034.

Angka 2034 bukan detail kecil. Bagi jutaan pensiunan, pekerja, dan keluarga di AS, tahun itu menjadi batas waktu yang terus diawasi karena berkaitan langsung dengan kemampuan pemerintah membayar manfaat pensiun, tunjangan disabilitas, dan santunan bagi ahli waris. Jika tidak ada penyesuaian kebijakan, tekanan fiskal bisa muncul jauh sebelum dana benar-benar habis. Itu sebabnya warisan Komisi Greenspan terasa relevan lagi hari ini.

Komisi Greenspan dan pelajaran reformasi

Komisi yang dipimpin Greenspan dibentuk atas permintaan Presiden Ronald Reagan pada 1983. Tugasnya berat dan sangat politis. Di satu sisi ada kebutuhan menjaga keberlanjutan program sosial paling terkenal di AS. Di sisi lain, setiap perubahan pada iuran, manfaat, atau usia pensiun hampir selalu memancing perdebatan tajam di Kongres.

Hasil akhirnya justru menunjukkan sesuatu yang jarang terjadi dalam politik fiskal: kompromi yang bertahan lama. Reformasi 1983 tidak menghapus masalah selamanya, tapi memberi waktu yang jauh lebih panjang bagi sistem untuk tetap berjalan. Dalam dunia kebijakan publik, waktu adalah aset mahal. Sangat mahal.

Soalnya, masalah dana pensiun negara tidak selalu meledak sekaligus. Ia sering datang pelan-pelan. Angka penerimaan tidak cukup cepat mengejar pembayaran manfaat. Populasi menua. Harapan hidup naik. Jumlah pekerja yang membiayai sistem tidak tumbuh secepat jumlah penerima manfaat. Di titik ini, sebuah program bisa terlihat aman hari ini, tetapi rapuh beberapa dekade kemudian.

Halaman:12Semua Halaman

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda